Minggu, 27 April 2014
Selasa, 01 April 2014
Pandangan Saya Tentang The Raid 2: Berandal
Mulai dari mana, ya? Oh ya, perkenalan saya dengan seri The Raid dimulai dari saat film pertamanya baru mulai dijajakan ke festival - festival di luar negeri. Respons yang positif, plus pengetahuan bahwa film ini dibuat oleh tim yang sama dengan tim di belakang film Merantau (2009) membuat saya tak sabar untuk langsung menontonnya begitu filmnya mulai diputar di bioskop lokal.
The Raid pertama, menurut saya, memang wajar mendapatkan puja - puji yang diterimanya; setidaknya beberapa. Film ini membawa warna baru , tidak saja bagi dunia sinema lokal, melainkan juga bagi sinema dunia; terkhusus dalam genre film aksi. Tidak pernah sebelumnya saya menonton film lokal seantusias seperti saat saya menyaksikan film tersebut.
Lalu, datanglah The Raid 2: Berandal. Otomatis ekspektasi saya lebih besar lagi kali ini. Sejak dari awal baru diumumkan akan dibuat pun saya mulai rajin mencari tahu segala info tentang film ini; seperti banyak orang lain yang menikmati film pertamanya. Dan harapan saya bahwa film ini akan menjadi film yang luar biasa makin hari makin meninggi, seiring berita - berita yang semakin mendukung ke arah itu, sebelum saya menyaksikan langsung filmnya jum'at kemarin.
Saya sudah mendengar banyak tentang film ini sebelum menontonnya. Ulasan - ulasan yang gila - gilaan baiknya dari orang - orang yang menyaksikannya lebih dulu lewat berbagai festival, serta dengan melihat sendiri trailer yang menarik dari film ini membuat saya sudah menyiapkan diri untuk menyaksikan yang jauh lebih gila lagi saat menontonnya di bioskop. Tapi sayangnya tidak terlalu tepat demikian.
Bagaimana, ya? The Raid 2: Berandal tidak jelek, tapi tidak gila - gilaan bagus juga seperti bayangan saya. Bayangan yang bukan berdasar harapan semata, tapi berdasar dari banyak berita yang saya dengar selama pembuatan film ini, termasuk dari sang sutradara Gareth Evans sendiri yang rajin berbagi perkembangan filmnya via akun Twitter pribadinya. Mr. Evans terdengar sangat antusias dan yakin dengan apa yang ia kerjakan dalam film ini, dan bagaimana film ini akan lebih luas, lebih besar, serta lebih kompleks dari segi cerita dan karakter dibandingkan film pertama. Sayangnya ,menurut saya justru di sinilah yang membuat film ini menjadi film yang tidak sebagus seperti seharusnya.
Layaknya film sekuel, adegan - adegan awal dalam film ini dimaksudkan sebagai penghubung dengan film pertama, sekaligus pembangun plot dan karakter untuk kepentingan cerita. ke depan. Sampai disini, fungsi pertama mungkin berhasil, terutama pasti bagi mereka yang mengikuti cerita film pertama; namun untuk fungsi kedua, penggalan - penggalan adegan awal agak terasa membingungkan. Gabungan narasi dan penceritaan secara flashback terasa tumpang tindih; sangat mungkin juga akibat narasi dan dialog yang kurang jelas, padahal adegan - adegan ini penting untuk pemahaman cerita berikutnya.
Jujur saja, saya bisa jelas mengikuti plot awal yang dibangun adegan - adegan film ini justru melalui ulasan - ulasan yang saya baca sebelumnya,terlebih dari bocoran - bocoran Mr. Evans sendiri, bukan melalui adegan - adegan yang saya tonton seperti seharusnya. Iya, semua tahu kali ini Rama si tokoh utama menjalankan sebuah misi dengan sengaja membiarkan dirinya tertangkap dan dipenjarakan. Tapi kenapa tahu - tahu dia dikeroyok tahanan - tahanan lain dalam adegan toilet itu? Untuk mencari perhatian Uco, mungkin, tapi bagaimana tahanan - tahanan itu menjadi begitu marahnya, tak jelas tergambar.
Lalu ada tokoh Beni, yang pertama muncul justru sedang duduk semeja dengan Uco, tapi berikutnya malah memimpin penyerangan terhadap Uco. Mungkin bisa dipahami bahwa Beni sebelumnya berada dipihak Uco kemudian berkhianat; untuk mendukung cerita bahwa keberadaan Uco memang selalu terancam dalam penjara itu dan bahwa tidak ada satu orang pun yang bisa dipercaya, sekaligus memberi kesempatan Rama untuk menyelamatkannya dan mengambil kepercayaannya. Tapi masalahnya hanya adegan duduk sebangku itulah satu - satunya yang menggambarkan hubungan mereka, dan terasa ganjil saat tahu - tahu Beni menyerang Uco.
Diceritakan, Rama berhasil selamat melewati 2 tahun hukuman penjara dan langsung diterima dalam keluarga kriminal Bangun. Hal pertama yang dilakukannya tentu mencari kabar keluargannya, istri dan anaknya yang pertama dipamiti hanya akan ditinggalkannya beberapa bulan saja. Entah karena akting Iko Uwais yang kurang maksimal, atau penulisan cerita yang tanpa emosi, adegan Rama berbicara dengan Isa sang istri untuk pertama kali dalam 2 tahun terasa datar. Padahal dari awal, keluarga adalah motivasi utama Rama dalam misinya. Keluarga adalah kompas moral tokoh Rama yang bisa membuat kita simpati dengan tokoh ini; yang tidak sekedar menjadikannya mesin petarung tanpa tanding; yang membedakannya dengan penjahat - penjahat yang di hadapinya meski sama - sama membunuh dengan brutal. Harusnya hubungan Rama dengan keluargannya bisa lebih di gali lagi.
Karakter Rama juga terasa lemah dalam film ini. Menyamar sebagai Yudha, misinya adalah masuk sedalam mungkin ke dalam lingkungan kriminal untuk mengungkap tuntas nama - nama polisi korup yang bisa mengancam keluarganya. Apa yang ia lakukan untuk itu? Hampir tidak ada, kecuali mengikuti Uco kemana - mana. Selebihnya, Rama hanya jadi peserta pasif yang tidak bisa berbuat apa - apa menyaksikan kekerasan di sekitarnya. Keberadaannya justru terasa hanya sebagai tempelan di tengah konflik. Bahkan hingga menjelang akhir cerita, Rama masih bukan siapa - siapa bagi karakter lain; sekedar dianggap sebagai salah satu dari sekian banyak anak buah Bangun yang kebetulan memiliki keahlian bela diri yang patut diperhitungkan.
Bisa jadi segala kelemahan dari segi cerita ini karena awalnya cerita Berandal ini adalah cerita mandiri yang tidak berhubungan dengan film The Raid pertama, tapi sengaja dihubung - hubungkan agar 'nyambung' sebagai sekuel. Jadinya cerita dalam film ini hanya terasa sebagai intro dan penghubung antara satu adegan aksi ke adegan aksi lain. Memang inilah yang menjadi nilai jual The Raid 2: Berandal: adegan - adegan aksi dan pertarungan yang inovatif dan menarik. Menyaksikan adegan - adegan ini terasa menonton versi panjang dari trailernya. Menarik, tentu saja, tapi terasa kurang latar belakang cerita, sehingga adegan - adegan itu terasa berdiri sendiri -sendiri; ya itu tadi, seperti potongan trailer versi adegan penuh.
Hal lain yang agak mengganggu saya dalam menikmati film ini adalah kevulgarannya dalam penggambaran kekerasan. Saya yakin banyak yang tidak sependapat tentang ini, beralasan bahwa ini sudah sewajarnya sebagai sebuah sebuah film aksi, dan bagi yang tidak tahan melihat adegan - adegan sadis, silakan melihat melihat film drama saja. Tapi tetap saja, sebagai sebuah tontonan umum, ada batas - batas tertentu dalam penggambaran adegan kekerasan yang bisa ditampilkan, tanpa terkesan mengganggu.
Saya agak merasa Mr. Evans suka menampilkan adegan - adegan sadis seperti ini, dan menganggap orang - orang berpikir bahwa adegan - adegan semacam itu keren. The Raid pertama, kendati penuh adegan kekerasan, tapi masih dalam batas 'keren' tersebut; menambah kesan realis dalam sebuah adegan. Namun dalam hal ini, lebih sadis tidak berarti lebih keren. Dalam film ini, beberapa adegan kekerasan terasa terlalu frontal ditampilkan, jadinya justru berlebihan. Padahal jika seandainya memang penting untuk keutuhan cerita, bisa diakali dengan trik tata kamera dan editing, sehingga adegan sadis tidak tampil blak - blakan begitu saja. Yang tidak penting, ya sekalian dihilangkan saja. Oh ya, adegan dalam pabrik video mesum milik Topan, dimana ditampilkan adegan mesum dalam siluet dengan suara yang jelas, termasuk amat sangat tidak penting dan menganggu, dan tidak ada alasan untuk dipertahankan.
Terlepas dari itu semua, film ini cukup menghibur. Dan bagaimanapun, saya tetap antusias menunggu seri ketiganya nanti. Semoga kali ini sebanding dengan antusiasme saya.
Langganan:
Postingan (Atom)

