Kamis, 21 September 2017

Cerita Panjang Backpacker-an Singkat Ke Bromo

Siapa yang tidak tahu Bromo? Yaa, ada aja sih pasti. Tapi, intinya pasti lebih banyak yang tau lah. Yang belum pernah ke sana pun pasti bisa membayangkan lautan pasirnya yang luas dan padang savananya yang indah, dan biasanya langsung mengangankan untuk suatu saat bisa berkunjung ke sana. Begitu pun saya; sudah lama saya ingin dolan ke kawasan wisata alam kawah di Jawa Timur yang tersohor sampai ke luar negeri ini.
Berawal dari sekedar rasa pengen yang terpendam terlalu lama tanpa tahu kapan akan kesampaian, tiba - tiba saja saya akhirnya mantab untuk mewujudkannya. Meskipun sempat memprovokasi beberapa teman untuk melakukan trip bareng, tapi dari awal bayangan saya adalah memang untuk berangkat sendirian. Yang sempat jadi pertimbangan waktu itu, dari hasil browsing sekedarnya, bahwa dengan pergi berombongan biaya bisa lebih murah. Namun, setelah beberapa teman yang tertarik ternyata semua berujung tidak jelas, saya makin mantab untuk berangkat sendirian. Asumsinya, ke-mahal-an biaya yang nanti akan saya tanggung sendiri -yang bisa lebih murah bila ditanggung bersama rekan- akan di kompensasi dengan penghematan pada pengeluaran yang lain.
Berikutnya saya mulai mengumpulkan info secukup yang saya butuh -lagi - lagi via browsing, menentukan rute dan estimasi anggaran. Setelah menentukan tanggal yang pas -libur weekend sabtu-minggu, ditambah cuti di hari senin dan kebetulan libur Hari Raya Nyepi di hari selasa-, saya langsung merancang perjalanan, menyesuaikan waktu terbatas yang saya punya; 4 hari yang saya punya harus sudah cukup untuk menuntaskan perjalanan ini.
Persoalan berikutnya, transportasi. Menyesuaikan waktu dan untuk menekan biaya seminim mungkin, pilihan jatuh pada kereta api. Tiga minggu sebelum tanggal berangkat saya memesan secara online tiket kereta api pp Stasiun Senen - Pasar Turi (Sby) - Stasiun Senen seharga Rp 165.000 sekali jalan dengan menggunakan Kereta Api Ekonomi Kertajaya. Pun dari waktu sejauh itu kuota kereta ternyata sudah hampir penuh. Jadi untuk yang berminat, pastikan memesan tiket dari jauh hari.

Hari pertama, 25 maret 2017.

Dengan commuter line saya berangkat ke Stasiun Senen dari domisili saya di Tangerang. Sampai di tujuan sekitar pukul 12.30, saya menukarkan dulu struk pembelian tiket dengan tiket resmi. Sesuai jadwal, Kertajaya mulai berangkat pukul 14.00. Kecuali jarak kursi yang berhadapan agak terlalu dekat dan sandarannya yang tegak 90° sehingga membuat pegal, kereta ekonomi ini lumayan nyaman. Gerbongnya bersih dan ber-AC. Bila tidak sempat membawa bekal pun tidak perlu khawatir, di dalam ada semacam kantin yang menjual berbagai makanan dan minuman. Pun tidak perlu beranjak dari tempat duduk karena akan ada petugas yang rajin berkeliling menawarkan dagangannya; nasi lauk, nasi goreng, kopi, minuman botol, bahkan camilan.

Hari kedua, 26 maret 2017.


Lengangnya suasana pagi Jl. Semarang di depan Stasiun Turi.







































Pukul 01.35 Kertajaya tiba di Stasiun Pasar Turi, telat 5 menit dari jadwal. Lagu Surabaya oh Surabaya terdengar menyambut via pengeras suara; entah siapa yang perlu untuk diingatkan akan posisi mereka sekarang berada karena lagu ini diputar berulang - ulang. Di pintu keluar stasiun banyak calo dan sopir yang menawarkan jasanya; mulai dari mobil sewaan, travel, taxi, ojek, sampai tukang becak. Demi pengiritan, saya harus menunggu hari terang untuk bisa naik bus kota ke tujuan berikutnya, Terminal Bungurasih/ Purabaya. Bus kota tidak lewat di jalan depan stasiun, jadi kita harus berjalan dari depan stasiun ke arah kiri yaitu ke pertigaan di depan gedung Pusat Grosir Surabaya (PGS) untuk menunggu bus. Lumayan sebagai relaksasi juga - setelah hampir 12 jam duduk di kereta, sambil menikmati udara dan suasana pagi kota Pahlawan. Selepas menyempatkan sarapan dini dengan menu soto daging sapi madura dan sholat shubuh di masjid dekat stasiun, saya akhirnya mendapat bus sekitar pukul 06.30, langsung menuju ke Bungurasih dengan waktu tempuh 30 menitan dengan ongkos cuma Rp 6000.
Di Bungurasih akan ada lebih banyak lagi calo, jadi pintar-pintar saja buat menolak -fokus saja mencari Bus patas AC yang akan membawa ke tujuan berikutnya, Probolinggo. Tarifnya Rp 30.000, agak lebih mahal dari bus biasa tapi jelas lebih nyaman dan lebih cepat. Berangkat dari Bungurasih pukul 07.19, saya akhirnya sampai di terminal Bayuangga, Probolinggo pada pukul 09.24. Saya menyempatkan makan lagi di terminal kecil ini, yaah anggap saja makan siang dini lah, untuk kemudian keluar terminal untuk mencari angkutan sejenis L300 yang disebut Bison -angkutan khusus ke cemoro lawang, tujuan berikutnya- yang mangkal di sebelah kiri arah keluar terminal. Banyak tukang ojek yang menawarkan jasanya dengan tarif yang tentu akan lebih mahal. Sopan - sopannya kita saja menolaknya.
Demi tarif yang lebih murah dan sedikit lebih nyaman kita harus bersabar karena angkutan Bison ini tidak akan berangkat sebelum penumpang penuh. Saya penumpang ketiga yang datang saat itu, untungnya tak berapa lama datang rombongan lokal 3 orang, lalu berturut-turut datang beberapa rombongan lagi dengan total 11 orang yang semuanya bule serta satu orang jepang, jadi totalnya adalah 17 orang plus sopir yang berdesakan dalam mobil itu.
Suasana pangkalan angkutan bison di luar terminal Probolinggo.
Bison akhirnya berangkat pukul 11.05 menuju Cemoro Lawang, Sukapura, dengan medan yang, tentu saja, menanjak dan berliku-liku; semakin naik hawa terasa semakin dingin, pemandangan di luar pun semakin indah. Oh iya, bila mungkin sempatkan mengobrol dengan sang sopir; anda akan butuh tempat menginap dan jeep untuk di sewa nanti dan biasanya sopir-sopir ini merangkap semacam agen yang sekaligus menyediakan fasilitas tersebut kepada wisatawan, ataupun sekedar sebagai penghubung. Itulah yang saya lakukan, sehingga saat sampai di Cemoro Lawang pukul 12.30 saya langsung mendapat tempat menginap sekaligus Jeep sewaan dari sopir Bison yang saya tumpangi tanpa repot mencari lagi. Harganya: Rp 150.000 per kamar homestay + Rp 130.000 per orang/ Jeep. Untungnya, 3 orang rombongan lokal yang bareng satu Bison tadi mau berbagi homestay dan jeep dengan saya, jadi kami menyewa dua dari tiga kamar yang ada di homestay tersebut; satu kamar berdua sehingga masing-masing cukup membayar Rp 75.000.
Homestay di Cemoro Lawang.
Jeep baru akan menjemput kami menjelang pagi jadi kami punya waktu seharian di homestay. Saat jalan - jalan di sekitaran kampung kecil ini secara tak sengaja kami baru tahu bahwa Bromo yang akan kami kunjungi esok ternyata terlihat jelas dari salah satu komplek penginapan dan restoran yang berlokasi di dekat semacam tebing yang menghadap langsung ke kawah Bromo nun jauh di bawah sana. Akhirnya saya melihat Bromo secara langsung. Luar biasa indahnya. Dari komposisi letak dan sudut pandangnya, banyak gambar atau foto - foto Bromo yang saya lihat dan beredar luas diambil dari sudut pandang tempat ini. Dari sini, terlihat jelas Gunung Bromo yang senantiasa mengeluarkan asap tebal dari kawahnya. Di sampingnya, di sebelah kanan pandangan kita terlihat Gunung Batok yang berdiri kokoh. Keduanya dikelilingi oleh lautan pasir yang amat luas. Di atas pasir terlihat jalur - jalur bekas lintasan kendaraan, sementara di sana banyak juga mobil jeep yang terlihat, walaupun tampak sangat kecil dari tempat ini.
View kawah Bromo dengan Gunung Batok di sebelah kanannya dilihat dari salah satu sudut penginapan di Cemoro Lawang. Familiar?






Hari ketiga, 27 maret 2017.

Pukul 03.00 lewat jeep menjemput kami berempat. Kapasitas jeep 6 penumpang sehingga kami harus berbagi dengan dua orang dari rombongan lain. Ada 4 lokasi yang akan kami kunjungi. Pukul 04 lewat sekian kami sampai di lokasi pertama: Penanjakan. Di sini ternyata sudah sangat ramai pengunjung, semuanya ingin menyaksikan matahari terbit dari balik Bromo yang terkenal spektakuler. Sayangnya kami semua saat itu harus kecewa saat sunrise ternyata tidak terlihat karena tertutup kabut. Pelajarannya: silakan berkunjung ke sini saat paruh kedua dalam setahun di musim kemarau sehingga biasanya sunrise terlihat jelas.
Gagal dapat sunrise di penanjakan.
Saat hari mulai terang kami menuju ke lokasi ke dua: Kawah Bromo. Butuh perjuangan agak ekstra untuk ke puncak kawahnya karena setelah melewati lautan pasir kita masih harus menaiki anak tangga yang lumayan banyak. Bila mau, dari lokasi parkir jeep kita bisa menyewa kuda untuk menuju ke kawah walaupun hanya bisa sampai kaki tangga. Di puncak, bau belerang lumayan menyengat dan suara gemuruh dari dalam kawah terdengar mendengkur keras.
Lokasi ke tiga dan ke empat adalah Padang Savanna dan Pasir Berbisik. Kedua tempat ini pun tak kalah indah bukan main. Di dua tempat terakhir ini saya tak melihat satu pun turis selain asing, padahal di dua tempat sebelumnya ada banyak sekali. Menurut sopir Jeep yang mengantar kami, turis asing yang berkunjung ke Bromo biasanya sekedar mampir dari trip estafet mereka. Entah, misalnya, dari Bali untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Jogjakarta, atau sebaliknya. Jadi, kebanyakan mereka hanya menyempatkan untuk mengunjungi dua tempat pertama demi menghemat waktu mereka yang terbatas.
Pose wajib di depan jeep.
Padang savana.
Walau jeep sewaan kami tidak membatasi waktu tapi saya dan teman rombongan lain tidak merasa perlu berlama - lama di lokasi - lokasi tersebut karena tentu waktu kami lah yang terbatas. Pukul 10.30 kami sudah kembali ke homestay untuk langsung berkemas turun untuk pulang.
Setelah naik elf lagi sampai ke Terminal Bayuangga Probolinggo, saya berpisah dengan rombongan untuk langsung melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Sekitar pukul 3 sore bus saya tiba di Bungurasih. Demi membeli oleh - oleh ( Sumpah, kalo ngga dipentingin ngga bakal dibela - belain ini mah, karena waktunya mepet plus badan yang sudah capek banget -lah jadi curhat ) saya berpusing - pusing dulu di Kota Surabaya, tidak langsung ke stasiun. Lagi - lagi bermodal browsing, saya memutuskan untuk mencari oleh - oleh ke pasar genteng yang merupakan pusat oleh - oleh di Surabaya. Setelah tanya sana sini hingga salah turun bus sehingga harus jalan kaki lumayan jauh, saya dapat juga oleh - oleh yang saya cari, walaupun hari sampai mulai gelap..
Untuk ke stasiun saya harus naik angkot lagi. Badan capek luar biasa tapi hati puas. Saya sempatkan mencoba makan rawon di warung di depan stasiun, sebelum pulang ke Tangerang via Jakarta naik Kereta Api Kertajaya lagi dan berangkat tepat waktu pukul 21.00. Perjalanan pulang selalu terasa lebih plong, lega. Pukul 08.49 kereta sudah tiba di stasiun Pasar Senen, kali ini terlambat 19 menit dari jadwal. Dan tuntas pula lah perjalanan singkat saya kali ini. Dalam hati saya sudah berharap - harap, semoga perjalanan - perjalanan ke tempat lain cepet menyusul. Amin lah.


NB: Terima kasih buat Riki, Dede, dan satu teman lagi yang, maaf, saya lupa namanya, yang sudah mau patungan untuk berbagi Homestay dan Jeep :)

Senin, 09 Juni 2014

Borneo: The Journey

Masih tentang Kalimantan, ini pengalaman perjalanan saya ke ibukota salah satu provinsinya; Banjarmasin, ibukota Kalimantan Selatan.

Sekalian menambah pengalaman, tujuan saya waktu itu ke Kalimantan adalah mencari kerja. Setelah usaha menaruh lamaran di beberapa perusahaan tambang belum ada hasil, tanpa sengaja saya melihat lowongan kerja di koran setempat. Dalam kondisi biasa, iklan tersebut mungkin bakal biasa juga, tapi buat yang desperate macam saya waktu itu (haha..nggak juga sih), iklan tersebut jadi peluang yang pantas di coba.

Saya lihat nama PT-nya (lupa), syarat - syaratnya (hmm, memenuhi), posisi yang di tawarkan ( ah, sebodo amat), trus alamatnya..jrennnggg: Jl. Ahmad Yani Km.sekian No. sekian, BANJARMASIN. Waduh, disebelah mana tuh ya? Bahwa Banjarmasin adalah ibukota Kalimantan Selatan, itu sih saya tahu, tapi ke arah mana dan seberapa jauh dari posisi saya saat itu; Sei Kecil, kec. Batulicin, kab. Tanah Bumbu, saya benar - benar tidak ada bayangan.

Berbekal rasa penasaran dan semangat juang tinggi (the kepepet effect), saya mulai menceritakan niat sekaligus bertanya soal lokasi di Banjarmasin itu ke kenalan. Niat saya mantab, pergi ke Banjarmasin, entah di mana itu.

Senin, 14 mei 2006.
Berbekal sebuah alamat, tas punggung, kemeja putih dan celana bahan warna hitam pinjaman dari kenalan orang flores yang saya simpan dalam tas, sepatu kets, dan duit minimalis, menjelang siang saya berangkat ke terminal Batulicin dengan naik taksi (baca: angkot). Segera saya beli karcis tujuan Banjarmasin, kalau tidak salah harganya Rp 35ribu. Ternyata angkutan berwujud minibus itu harus menunggu penuh penumpang dulu sebelum berangkat, dan baru sekitar jam 11.30 mulai berangkat. Here we go...

Lepas dari daerah perkotaan, suasana perkampungan, hutan pegunungan, dan perkebunan langsung silih berganti. Detail sepanjang perjalanan agak kabur dalam ingatan saya, yang jelas bentang alamnya beda dengan di jawa. Berhubung masih di daerah pesisir, rawa - rawa umum dijumpai, juga sungai - sungai. Kami juga banyak melewati perkebunan kelapa sawit.

Kondisi jalan sih lumayan, beberapa juga lumayan jelek. Beberapa ruas jalan hanya berupa jalan makadam atau jalan tanah yang dikeraskan. Dipadu dengan lokasi daerah pesisir yang basah, klop sudah; arena off road bisa menanti di mana aja. Kadang kita harus melewati jembatan kecil yang dibuat dari entah batang pohon kelapa atau pohon sagu, yang tentu saja licin.

Dari hasil obrolan dengan teman duduk disamping saya, saya dapat gambaran sedikit tentang alamat yang saya tuju.

Di tengah perjalanan, mobil tiba - tiba berhenti, ternyata untuk menaikkan penumpang, padahal kursi sudah penuh. Di luar mobil ada beberapa pria dan wanita; ternyata mereka hanya mengantar saja, sedang yang naik hanya seorang, gadis yang saya terka usianya mungkin baru sekitar 13 sampai 15 tahun. Yang menarik, mereka berpamitan dengan penuh haru. Seorang wanita setengah baya yang mungkin ibunya terlihat seperti menasehatinya, sementara si gadis tidak berhenti menangis, seperti tidak rela pergi. Gadis itu duduk di bangku depan, di apit supir dan penumpang lain. Dari  tempat duduk saya yang di belakang, terlihat dia masih tetap menangis beberapa lama setelah berangkat. Entah dia pergi karena dipaksa, entah sedih meninggalkan keluarganya, ataupun kemana dan kenapa gadis semuda dia pergi sendirian, saya tak pernah tahu.

Saya sempat tertidur sebentar (tapi sering..dasar, tukang ngantuk!) di perjalanan, sehingga melewatkan beberapa keadaan perjalanan. Sekitar waktu Ashar mobil kami berhenti di rumah makan, memberi waktu penumpang untuk sholat, keperluan kamar mandi, dan makan. Saya pun makan.

Mobil kami meneruskan perjalanan, hingga akhirnya masuk ke terminal Banjarmasin sekitar pukul 05.30. Fiuh, inilah banjarmasin. Misi pertama accomplished lah. Sesuai saran teman perjalanan saya tadi, saya segera mencari ojek, buat mengantar saya ke alamat tujuan. Setelah kompak menengok kiri kanan sepanjang jl. Ahmad Yani, akhirnya kami menemukan juga gedung dengan nomor yang saya cari. Masalahnya, hari sudah gelap dan kantor itu pun sudah tutup. Terpaksa memang saya harus kembali esok hari, tapi harus kemana saya sekarang? Nah loh.

Saya mulai menelusuri jalan besar tersebut. Mengingat sudah masuk waktu maghrib, tujuan saya mencari masjid, sekalian beristirahat. Saya berjalan ke arah saya pertama datang. Banjarmasin lumayan ramai, suasananya tidak beda dengan kota - kota besar lain di jawa. Jalan mulus dan lebar, di apit penuh dengan bangunan, sementara sungai mengalir di sepanjang sisinya.

Di sebelah kiri arah saya jalan, saya menemukan sebuah masjid besar. Setelah ikut sholat maghrib berjamaah, saya mencari penjaganya untuk meminta ijin menumpang menginap. Ternyata ditolak, alasannya karena masjid dikunci kalau malam hari. Saya merasa penjaga masjid agak kurang ramah terhadap saya, maka saya putuskan mencari tempat lain. Tidak jauh dari situ, saya mampir makan di kedai tenda di pinggir jalan. Ternyata penjualnya orang jawa. Agak jauh dari situ ada masjid juga, kali ini di sebelah kiri, lebih kecil dari yang pertama. Saya sholat isya' di situ. Setelah sholat, kali ini saya tak menemukan penjaga masjid, jadi saya tidur saja di situ.

Subuh, saya bukan bangun oleh adzan, tapi oleh tukang - tukang sayur yang mampir dulu untuk sholat subuh, sekalian menyiapkan gerobak dagangannya. Setelah subuhan, saya numpang cuci muka (tidak boleh numpang mandi, kata penjaganya yang sekarang baru ada) dan ganti pakaian dengan baju pinjaman itu. Lagi - lagi jalan kaki, saya menuju kantor itu lagi, sudah ramai orang di situ. Saya menemui petugas recruitment-nya, seorang Bali yang ramah. Ternyata lowongan itu untuk pekerjaan sales produk water purifier, huh..lagu lama ternyata. Bapak Bali itu menerangkan dengan berapi - api tentang prospek dan cara kerjanya dan bilang bahwa saya bisa mulai kerja besok pagi. Sebenarnya saya tidak tertarik, tapi saya tidak bilang menolak juga; saya bilang saya dari tempat jauh dan belum ada tempat menginap.

Saya baru sadar bahwa saya memang tidak ada persiapan apa - apa. Kalaupun saya terima, saya tinggal di mana, apa modal hidup saya? Mengingat saya juga tidak sreg dengan pekerjaannya, saya putuskan pulang ke batu licin lagi hari itu juga. Tak sempat mencari tempat, saya ganti baju di pinggir jalan, trus menuju terminal.

Hari itu juga sekitar maghrib saya tiba di batu licin. Setelah membayar angkot dari terminal, saya hitung - hitung sisa uang bekal saya di dompet tinggal beberapa ribu rupiah saja. Luar biasa!

Selasa, 03 Juni 2014

Borneo: The Beginning

Ini cerita perjalanan saya ke kalimantan bertahun - tahun lalu.

Rabu, 19 april 2006.
Lewat tengah malam menjelang jam 2 pagi di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, kapal Dharma Kencana sedang mengangkut penumpang baru. Setelah menunggu dari sore, Saya berdua dengan teman perjalanan saya - tetangga yang mengajak saya, tepatnya - bersiap naik juga; bukan melalui pintu penumpang, tapi ikut di dalam kokpit truk barang yang antri masuk melalui pintu besar di lambung kapal. Kok?

Ceritanya, dari pengalaman teman saya yang sudah sering naik kapal sebelumnya, akan jauh lebih hemat dengan nebeng truk begini. Caranya? Begini, biasanya truk barang yang akan menyeberang memakai kapal laut akan mendapat jatah 3 tiket; satu untuk sopir, dua tiket untuk kenek. Kadang si sopir berangkat tanpa kenek, sehingga jatah dua tiket lainnya umumnya dijual; yah, itung - itung uang rokok. Jadi kita tinggal ke tempat parkirnya truk - truk barang yang akan menyeberang itu, ngobrol - ngobrol sedikit nyari sopir yang berangkat sendirian untuk kita beli tiketnya. Tentu saja harganya bisa nego, yang jelas bisa jauh lebih murah daripada beli tiket di loket penumpang resmi. Waktu itu saya membayar Rp.65 ribu seorang, sekitar separuh harga di loket resmi. Lumayan, itung - itung a la backpacker.

Tentunya cara di atas hanya nyaman kalau kita berangkat tanpa membawa banyak barang.

Di dalam kapal, meski tak berkarcis resmi saya bebas mencari tempat duduk di ruangan - ruangan lain, tak melulu harus ikut rombongan sopir. Kapal mulai bergerak perlahan, meninggalkan pulau jawa tercinta - yang pertama kali dalam dua dasawarsa lebih.

Pertama kali naik kapal, saya jelajahi sebanyak mungkin bagian - bagiannya, tingkat per tingkat. Puas menikmati angin laut di luar saya mencari tempat istirahat di dalam, maklum, masih gelap. Tidak susah saya dapat tempat duduk, sekedar buat tidur. Tak ada pemeriksaan karcis. Pagi - pagi saya udah bangun lebih segar, langsung ke geladak atas buat menikmati angin pagi.

Geladak atas jadi tempat favorit banyak orang. Dari sini sepanjang mata memandang ke sekeliling kapal hanya ada air dan air. Geladak di 'buritan' (barusan dapat namanya dari googling, maklum, sering gak bisa bedain mana buritan, mana haluan - buritan di belakang, haluan di depan) posisinya lebih enak buat menikmati pandangan.Iya, dalam hal ini saya beda pendapat dengan mas Jack dan mbak Rose yang lebih suka berdiri di haluan. Dari buritan, kita bisa jelas melihat air di belakang kapal yang berombak teratur hasil dorongan mesin kapal.

Di dalam pun ada hiburan. Di satu ruangan sudah di sediakan satu grup organ tunggal buat para dangduters. Ada juga televisi yang memutar kaset video film hampir non stop. Seingat saya waktu itu yang saya tonton ada The Last Samurai-nya Tom Cruise, Mrs. Doubtfire-nya Robin Williams, dan Entrapment-nya Catherine Zeta-Jones dan Sean Connery. Film - film lama memang, bahkan buat waktu itu.

Dengan karcis kenek itu saya dapat jatah makan juga. Nasi yang agak keras dengan potongan ayam goreng, sayur, dan potongan kecil buah semangka. Lumayan lah.

Di tengah banyaknya penumpang kapal itu kebetulan teman saya bertemu kenalannya yang satu tujuan - oya, kapal ini menuju Banjarmasin, dengan transit terlebih dulu di pelabuhan Batu Licin, tujuan kami. Mereka, kenalan teman saya itu, orang - orang asal jawa timur yang mau kembali ke perantauan di sana.

Kamis, 20 april 2006.
Lagi - lagi tengah malam, setelah sekitar 24 jam di atas kapal, mulai terlihat pemandangan lain di kejauhan. Cahaya tampak berkelap - kelip di kejauhan. Gundukan daratan mulai tampak di kegelapan. Kata orang, itulah Pagatan, salah satu daerah pantai kalimantan selatan. Tapi bukan tujuan kami.

Beberapa lama, suasana mulai riuh, tujuan semakin dekat. Kapal kami ditarik oleh kapal pemandu yang lebih kecil untuk mendekati pelabuhan.

Jam 02.00 pagi, untuk pertama kalinya saya menjejakkan kaki di pelabuhan Batu Licin, Kalimantan Selatan, tanah Borneo.

Sabtu, 31 Mei 2014

Tarmo Trail: The Legacy

Namanya lumayan gampang diingat: Tarmo Trail. Lumayan keren 'kan? Yah, tergantung definisi anda soal keren sih. Memang gak seterkenal Dirty Harry, Moaning Myrtle, Rocket Racoon, atau Daffy Duck, tapi pola penamaan mereka serupa: dua kata; satu kata untuk nama umum, satu lagi sebagai penekanan identifitas khusus.

Nah, kalo Tarmo Trail? Kayaknya gak perlu nunggu Conan Edogawa ngebius Kogoro Mouri deh buat tahu kalau Tarmo itu nama aslinya. Berhubung dia orang jawa, mungkin nama panjangnya Sutarmo,atau Tarmono, entah yang mana. Nah, terus Trail-nya? Itu tunggangannya sehari-hari: Motor Trail. Lumayan 'kan?

Terus, emang siapa dia? Tarmo Trail cuma seorang tukang sol sepatu di pasar kecamatan kampung saya, sejak dari dulu sejauh saya bisa mengingat, dan mungkin sekarang pun masih. Terus apa istimewanya? Gayanya. Penampilannya. Kaos pas badan, rompi penuh emblem sana-sini, celana cutbray dengan sepatu boot ber-hak tinggi. Aksesoris rantai menggantung di pinggang, ditunjang badan yang lumayan berisi, rambut ikal gondrong macam personil soneta jaman dulu - plus cambang manly, hehe -, itu penampilannya sehari - hari. Ditambah kaca mata rayban hitam lebar model lawas, plus tunggangannya tadi: Motor Trail, entah model apa, Tarmo Trail adalah ikon fashion sejati kampung saya jaman saya kecil dulu.

Nyentrik, mungkin kata yang tepat juga untuk menyebutnya. Kenyataannya, meski jaman selalu berubah, mode selalu berganti, Tarmo Trail tetap setia dengan gayanya. Dan dia nampak nyaman bertahan dalam gaya yang sudah lama ditinggal orang itu. Dan kenapa enggak? Justru dia menunjukkan, setiap orang boleh bergaya, apapun latar belakangnya, sesuai minat masing-masing tentunya; itu yang membuat setiap orang unik. Dan Tarmo Trail tampaknya menikmati keunikannya. Tarmo Trail bukan lagi nama, tapi sudah menjadi trademark; merk dagang. Dia tak di sebut Mas Tarmo, Lek Tarmo, atau Pak De Tarmo; semua orang, tua atau pun muda hanya mengenalnya sebagai Tarmo Trail.

Buat anak-anak, unik bisa berarti seram. Makanya dulu waktu saya kecil, seingat saya Ibu - ibu suka bilang ''Awas lho, nanti biar di bawa sama Tarmo Trail'' untuk menakuti anaknya yang bandel.

Tapi, Tarmo Trail bukan satu - satunya orang di kampung saya yang selera modenya mentok dalam satu masa. Meet Darman..salah satu orang yang selera fashionnya stuck di tahun 70'an dan gak kemana - mana lagi setelah itu. Tetangga saya ini orangnya kurus, semampai tapi gak tinggi. Pakaiannya? Kemeja lengan panjang ketat pas badan dengan ujung lengan lebar, plus dengan beberapa kancing atas sengaja tidak dikancing sehingga dada bagian atas kelihatan. Celananya model cutbray yang bagian bawahnya muat dipakai sembunyi 5 ekor kucing, sementara rambutnya lurus gondrong.

Seingat saya, semua pakaian kang Darman memang modelnya seperti itu. Jadi kalo terlihat satu model bukan karena gak ganti - ganti. Nah, kang Darman ini punya beberapa saudara kandung, salah satunya laki - laki juga yang tidak terpaut jauh umurnya, namanya Darmin. Beda mereka, selera pakaian kang Darmin ini lebih umum, mengikuti zaman.


Sabtu, 17 Mei 2014

Jejaring Sosial Dalam Toilet Umum

Mengais - ngais ingatan dari pelajaran jaman sekolah SD dulu, manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Kita ( saya anggap anda yang membaca ini adalah manusia seperti saya ) tidak bisa hidup tanpa orang lain - yah, bahkan Tarzan pun butuh mama gorila yang membesarkannya. Ini bukan sekedar masalah cukup makan minum, tapi kejiwaan. Chuck Noland memang sanggup bertahan lebih dari empat tahun sendirian di pulau tak berpenghuni di film Cast Away, tapi dia hampir gila tanpa Wilson si Bola Voli.

Poin-nya apa? Interaksi antar manusia itu kebutuhan bagi pelakunya. Manusia butuh menyampaikan gagasannya dengan cara berkomunikasi dengan orang lain. Iya, termasuk anda yang sedang galau dan merasa merasa ingin sendiri tanpa di ganggu orang lain - justru, TERUTAMA anda.

Dari fakta itu, berkembang - tumbuh-nya media sosial adalah suatu keniscayaan. Sekedar untuk bercerita pengalaman hidup, berbagi ide pemikiran, atau ikut mengGOSok berita biar makin SIP, banyak orang sekarang tidak bisa lepas dari media jejaring sosial mereka.

Tapi, yang namanya media tentu banyak macamnya. Selain banyak media sosial - termasuk jejaring sosial yang sekarang berkembang pesat - yang mungkin anda khatam menyebutkannya, mungkin ada satu yang tak terpikirkan oleh anda: Toilet umum.

Toilet umum adalah media sosial. Anda yang pernah menggunakan sarana umum ini di terminal - terminal, pasar tradisional, atau tempat wisata mungkin tidak asing dengan coretan - coretan dari orang - orang yang over-kreatif di dinding toilet umum. Ditunjang dengan kondisi toilet yang umumnya tidak terawat, coretan - coretan tersebut seolah perwakilan celoteh dari kelas rakyat pemakainya.

Mulai dari ungkapan cinta terpendam, olok - olok macam 'Tono *gambar hati* Tini', atau tantangan berantem di toilet sekolah; sampai promosi nomor handphone semacam 'kalo mau puas call 0812*******', atau ungkapan kegalauan hati 'pulang malu, tak pulang rindu' yang ada di terminal atau pasar - pasar tradisional, celoteh toilet umum adalah ekspresi pemikiran penulisnya. Tentunya anda tidak akan menemukan yang semacam ini di tempat mewah semacam mall atau pasar modern yang terawat.

Meski cenderung negatif, celoteh toilet umum juga cenderung lebih jujur karena biasanya penulisnya anonim. Orang bisa (catet: bisa! bukan 'harus') ngapain aja di situ; nyumpahin orang, memaki - maki atasan, nyebarin nomor telfon orang yang gak disukai, sampai curhat aib pribadi, tanpa takut atau malu ketahuan. Seperti di tempat kerja saya; di pabrik ini ada 8 toilet yang di pakai mayoritas penghuni pabrik, 24 jam sehari. Selain tempat pelampiasan kegalauan perut, tempat ini juga dipakai pelampiasan aspirasi pemakainya, selain juga tempat istirahat dan 'smoking area' ilegal.

Dari olok - olokan berbau SARA (saling menyinggung asal suku), sampai keluhan soal status pekerjaan (yang masih kontrak berharap di angkat tetap; yang harian minta di angkat kontrak), bahkan soal bonus yang tidak merata, toilet mengungkap hal - hal yang tak terungkap. Karena penggunanya adalah komunitas tetap, disini pun ada trending topic. Contohnya ada salah satu karyawan yang namanya paling sering muncul di dinding toilet karena banyak yang kesal atau mungkin marah padanya, tapi tidak berani berbicara langsung; lama - lama yang tidak tahu pun jadi tahu dan ikut - ikutan menambahi. Atau sebaliknya, ada satu karyawan perempuan yang penampilannya dianggap lumayan menggoda mata, namanya pun ada di sekujur dinding toilet, gambaran fantasi terpendam orang - orang yang tidak kesampaian. Sampai ada yang memberi istilah 'selebriti toilet' untuk mereka.

Komunikasi dua arah pun bisa dilakukan di sini. Saling berbalas tulisan, misalnya ada yang nulis 'dasar si A muka tembok, cari muka di depan atasan', trus ada yang balas 'pengecut lu, klo brani ketemu gw langsung', di bales lagi 'hahaha..ngrasa lu ya'. Masih dilanjut lagi di bawahnya, 'klo brani ktemu gw depan pbrik ntar pulang'. Dibales lagi 'gw sif 2, bego. lu pulang ya gw brangkat'. Ok ok, memang gak persis seperti itu sih.

Disini pun bisa edit status; istimewanya, smua orang punya akses melakukannya. Misalnya ada tulisan 'gw suka ama retno', besok - besoknya tulisannya jadi kebaca 'gw suka ama ratno'.

Nggak melulu olok - olok dan keluhan, tulisan biasa pun ada. Ada yang menulis 'peace, love, unity, respect' dengan gambar logo Slank, atau OI-nya Iwan fals. Ada juga dukungan buat klub sepak bola kesayangan yang mau bertanding, lengkap dengan tantangan taruhan. Yang paling netral dan paling sadar tempat, saya baca di toilet pabrik saya yang lama, tulisannya begini 'gak usah tolah toleh, ngeden aja'.

Rabu, 14 Mei 2014

Bicara Film dan Internet

Saya sudah sejak dulu suka menonton film, tapi ada bedanya antara menjadi penikmat film dulu dengan sekarang. Di jaman sekarang, di mana kemajuan teknologi komunikasi dan informasi sedikit banyak telah mengubah tata cara interaksi sosial masyarakat global, dunia perfilman pun tak bisa luput dari imbasnya. Studio - studio film bisa melakukan promosi untuk film - film mereka jauh sebelum filmnya sendiri dibuat. Lewat media online, jejaring sosial, atau situs - situs internet lain, masyarakat umum bisa mengikuti perkembangan sebuah film yang akan dibuat, bahkan sebelum kasting pemain dimulai.

Saya juga suka internet. Bagi saya, internet itu pencapaian manusia yang luar biasa. Bayangkan seperti ini: pengetahuan kumulatif orang - orang di penjuru dunia terkumpul dalam satu tempat, dan kita punya akses terbuka untuk melihatnya setiap saat. Apa tidak hebat 'tuh? Sehubungan dengan film, saya suka membaca info - info seputar film, atau apa saja tentang sebuah film, di internet. Biasanya saya membacanya di situs Wikipedia dan Imdb. Kapan saja. Pokoknya begitu terlintas pengin tahu tentang sesuatu, langsung buka internet.

Saat mencari tahu tentang sebuah film biasanya saya langsung ketikkan judul film tersebut di mesin pencari, dan dua situs di atas akan muncul di antara hasil teratas. Umumnya saya mulai dari wikipedia, melihat latar belakang film tersebut, tahun pembuatan, atau siapa sutradara dan pemainnya, lalu masuk plot cerita. Kemudian di Imdb saya melihat fakta - fakta menarik dari film tersebut di bagian Trivia, terus membaca quotes atau goofs-nya.

Pecinta film atau bukan, saya memang tidak selalu menonton film di bioskop. Kecuali untuk film yang benar - benar saya suka, saya cukup puas melihat film - film lain di layar kecil; di televisi atau DVD. Untuk film - film baru tentu saja harus melewati beberapa musim duren dulu sebelum bisa menonton di tv sambil leyeh - leyeh tiduran. Pilihan lain, ya DVD. Tapi ini pun harus sabar, putar - putar nyari di toko kaset sambil rajin nanya ke mbak yang jual, 'yang ini gambarnya udah bagus belum, mbak?'. Syukur kalo dijawab 'udah. Udah kopi ori tuh, mas'. Nah, kalo dijawab belum, tapi lumayan pengen nonton, ya siap - siap aja nonton sambil miring - miringin kepala.

Alasannya umum sih; harga DVD orisinil atau BluRay masih terbilang mahal, itu pun masih harus menunggu agak lama dari setelah filmnya tayang di bioskop. Lagi pula, kalo tidak cukup tertarik untuk melihat sebuah film di bioskop biasanya juga tidak cukup rela mengeluarkan uang lebih untuk membeli BluRay, misalnya. Sementara untuk film yang sudah ditonton di bioskop, membeli DVD biasanya untuk koleksi kalau ingin menonton lagi. Kalo pun sudah keluar DVD orisinilnya, yang bajakan tetap banyak jadi pilihan karena biasanya kualitasnya meningkat seiring waktu, sementara harganya tetap lebih murah dari harga bakso di warung sebelahnya (dengan ini resmi sudah bahwa alasan ''harus menunggu lama..'' sebagai alasan untuk tidak membeli yang orisinil di awal paragraf ini dinyatakan tidak invalid!).

Kembali soal internet, dua entri yang sering saya masukkan di mesin pencari hampir tiap hari selama beberapa bulan belakangan adalah Avengers: Age of Ultron dan Batman vs Superman, dua film yang saat ini paling ingin saya tonton nantinya. Begitu penginnya sampai punya niat untuk beli BluRay-nya suatu saat nanti?? Hmmm, pertanyaan jebakan.

Kamis, 08 Mei 2014

Naik Turunnya Harga Tiket Bioskop

Hari ini beberapa jam yang lalu, saya baru saja menonton film Marmut Merah Jambu-nya Raditya Dika, film kedua yang saya tonton di bulan ini. Iya, memang masih awal bulan, tanggal muda, dan masih ada jatah dua film lagi yang pengin ditonton sebelum bulan ini habis.

Sebagai sekedar penikmat film yang bukan maniak film, moviefreak, atau apapun sebutannya, saya cukup update tentang film-film yang bakal atau sedang beredar di bioskop. Saya punya daftar beberapa film yang ingin di tonton sampai beberapa bulan kedepan; beberapa bahkan masih hitungan tahun sebelum rilis. Tidak banyak film indonesia masuk dalam daftar ''the most pengen ditonton movies'' saya itu. Yah, tepatnya hanya satu sih, dan itu sebenarnya bukan Marmut-nya Dika ini.

Tapi saya bukan mau ngomongin film itu disini (atau mungkin sedikit aja kali ya: filmnya lumayan menghibur kok). Yang saya mau bahas justru harga tiketnya. Kenapa? Naik, jadi mahal? Bukan, justru malah turun. Iya, turun. Lebih murah. Saya bukannya baru tau sih, tapi sudah dari sebelumnya waktu saya mencari - cari jadwal bioskop di internet. Saya lihat di situ, kok harga tiketnya beda dari biasanya.

Memang sih, tidak semua bioskop turun harga. Yang lain justru naik. Tapi bukannya justru ini tambah aneh? Sama-sama satu jaringan, kok bisa beda-beda gitu. Oya, bioskop langganan saya ada di mall Metropolis. Selain jaraknya lebih dekat, harganya juga ramah. Sebelumnya, harga tiket hari senin-kamis Rp 25rb, hari jum'at Rp 30rb, sementara pada hari libur/sabtu/minggu Rp 35rb. Sekarang, harga tiket hari senin-kamis turun jadi Rp 15rb, hari jum'at jadi Rp 20rb, dan  di hari libur/sabtu/minggu jadi Rp 25rb saja.

Saya bukannya keberatan sih; karena justru bukannya konsumen yang diuntungkan? Cuma jadinya saya bertanya-tanya saja, kenapa justru turun harga, sementara di bioskop alternatif saya yaitu Karawaci 21 memang dari awalnya saja sudah lebih mahal dibandingkan di Metropolis, dan tidak turun.

Yah, sudahlah, toh dengan begini mungkin daftar nonton saya bisa sedikit ditambah. Atau dana yang tersisa bisa di alih-alokasi-kan ke camilan dan minuman bekal nonton.

Sekian dan salam.