Berawal dari sekedar rasa pengen yang terpendam terlalu lama tanpa tahu kapan akan kesampaian, tiba - tiba saja saya akhirnya mantab untuk mewujudkannya. Meskipun sempat memprovokasi beberapa teman untuk melakukan trip bareng, tapi dari awal bayangan saya adalah memang untuk berangkat sendirian. Yang sempat jadi pertimbangan waktu itu, dari hasil browsing sekedarnya, bahwa dengan pergi berombongan biaya bisa lebih murah. Namun, setelah beberapa teman yang tertarik ternyata semua berujung tidak jelas, saya makin mantab untuk berangkat sendirian. Asumsinya, ke-mahal-an biaya yang nanti akan saya tanggung sendiri -yang bisa lebih murah bila ditanggung bersama rekan- akan di kompensasi dengan penghematan pada pengeluaran yang lain.
Berikutnya saya mulai mengumpulkan info secukup yang saya butuh -lagi - lagi via browsing, menentukan rute dan estimasi anggaran. Setelah menentukan tanggal yang pas -libur weekend sabtu-minggu, ditambah cuti di hari senin dan kebetulan libur Hari Raya Nyepi di hari selasa-, saya langsung merancang perjalanan, menyesuaikan waktu terbatas yang saya punya; 4 hari yang saya punya harus sudah cukup untuk menuntaskan perjalanan ini.
Persoalan berikutnya, transportasi. Menyesuaikan waktu dan untuk menekan biaya seminim mungkin, pilihan jatuh pada kereta api. Tiga minggu sebelum tanggal berangkat saya memesan secara online tiket kereta api pp Stasiun Senen - Pasar Turi (Sby) - Stasiun Senen seharga Rp 165.000 sekali jalan dengan menggunakan Kereta Api Ekonomi Kertajaya. Pun dari waktu sejauh itu kuota kereta ternyata sudah hampir penuh. Jadi untuk yang berminat, pastikan memesan tiket dari jauh hari.
Hari pertama, 25 maret 2017.
Dengan commuter line saya berangkat ke Stasiun Senen dari domisili saya di Tangerang. Sampai di tujuan sekitar pukul 12.30, saya menukarkan dulu struk pembelian tiket dengan tiket resmi. Sesuai jadwal, Kertajaya mulai berangkat pukul 14.00. Kecuali jarak kursi yang berhadapan agak terlalu dekat dan sandarannya yang tegak 90° sehingga membuat pegal, kereta ekonomi ini lumayan nyaman. Gerbongnya bersih dan ber-AC. Bila tidak sempat membawa bekal pun tidak perlu khawatir, di dalam ada semacam kantin yang menjual berbagai makanan dan minuman. Pun tidak perlu beranjak dari tempat duduk karena akan ada petugas yang rajin berkeliling menawarkan dagangannya; nasi lauk, nasi goreng, kopi, minuman botol, bahkan camilan.
Hari kedua, 26 maret 2017.
![]() | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Lengangnya suasana pagi Jl. Semarang di depan Stasiun Turi. |
Demi tarif yang lebih murah dan sedikit lebih nyaman kita harus bersabar karena angkutan Bison ini tidak akan berangkat sebelum penumpang penuh. Saya penumpang ketiga yang datang saat itu, untungnya tak berapa lama datang rombongan lokal 3 orang, lalu berturut-turut datang beberapa rombongan lagi dengan total 11 orang yang semuanya bule serta satu orang jepang, jadi totalnya adalah 17 orang plus sopir yang berdesakan dalam mobil itu.
![]() |
| Suasana pangkalan angkutan bison di luar terminal Probolinggo. |
![]() |
| Homestay di Cemoro Lawang. |
![]() |
| View kawah Bromo dengan Gunung Batok di sebelah kanannya dilihat dari salah satu sudut penginapan di Cemoro Lawang. Familiar? |
Hari ketiga, 27 maret 2017.
Pukul 03.00 lewat jeep menjemput kami berempat. Kapasitas jeep 6 penumpang sehingga kami harus berbagi dengan dua orang dari rombongan lain. Ada 4 lokasi yang akan kami kunjungi. Pukul 04 lewat sekian kami sampai di lokasi pertama: Penanjakan. Di sini ternyata sudah sangat ramai pengunjung, semuanya ingin menyaksikan matahari terbit dari balik Bromo yang terkenal spektakuler. Sayangnya kami semua saat itu harus kecewa saat sunrise ternyata tidak terlihat karena tertutup kabut. Pelajarannya: silakan berkunjung ke sini saat paruh kedua dalam setahun di musim kemarau sehingga biasanya sunrise terlihat jelas.
![]() |
| Gagal dapat sunrise di penanjakan. |
Lokasi ke tiga dan ke empat adalah Padang Savanna dan Pasir Berbisik. Kedua tempat ini pun tak kalah indah bukan main. Di dua tempat terakhir ini saya tak melihat satu pun turis selain asing, padahal di dua tempat sebelumnya ada banyak sekali. Menurut sopir Jeep yang mengantar kami, turis asing yang berkunjung ke Bromo biasanya sekedar mampir dari trip estafet mereka. Entah, misalnya, dari Bali untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Jogjakarta, atau sebaliknya. Jadi, kebanyakan mereka hanya menyempatkan untuk mengunjungi dua tempat pertama demi menghemat waktu mereka yang terbatas.
![]() |
| Pose wajib di depan jeep. |
![]() |
| Padang savana. |
Setelah naik elf lagi sampai ke Terminal Bayuangga Probolinggo, saya berpisah dengan rombongan untuk langsung melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Sekitar pukul 3 sore bus saya tiba di Bungurasih. Demi membeli oleh - oleh ( Sumpah, kalo ngga dipentingin ngga bakal dibela - belain ini mah, karena waktunya mepet plus badan yang sudah capek banget -lah jadi curhat ) saya berpusing - pusing dulu di Kota Surabaya, tidak langsung ke stasiun. Lagi - lagi bermodal browsing, saya memutuskan untuk mencari oleh - oleh ke pasar genteng yang merupakan pusat oleh - oleh di Surabaya. Setelah tanya sana sini hingga salah turun bus sehingga harus jalan kaki lumayan jauh, saya dapat juga oleh - oleh yang saya cari, walaupun hari sampai mulai gelap..
Untuk ke stasiun saya harus naik angkot lagi. Badan capek luar biasa tapi hati puas. Saya sempatkan mencoba makan rawon di warung di depan stasiun, sebelum pulang ke Tangerang via Jakarta naik Kereta Api Kertajaya lagi dan berangkat tepat waktu pukul 21.00. Perjalanan pulang selalu terasa lebih plong, lega. Pukul 08.49 kereta sudah tiba di stasiun Pasar Senen, kali ini terlambat 19 menit dari jadwal. Dan tuntas pula lah perjalanan singkat saya kali ini. Dalam hati saya sudah berharap - harap, semoga perjalanan - perjalanan ke tempat lain cepet menyusul. Amin lah.
NB: Terima kasih buat Riki, Dede, dan satu teman lagi yang, maaf, saya lupa namanya, yang sudah mau patungan untuk berbagi Homestay dan Jeep :)






