Sabtu, 17 Mei 2014

Jejaring Sosial Dalam Toilet Umum

Mengais - ngais ingatan dari pelajaran jaman sekolah SD dulu, manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Kita ( saya anggap anda yang membaca ini adalah manusia seperti saya ) tidak bisa hidup tanpa orang lain - yah, bahkan Tarzan pun butuh mama gorila yang membesarkannya. Ini bukan sekedar masalah cukup makan minum, tapi kejiwaan. Chuck Noland memang sanggup bertahan lebih dari empat tahun sendirian di pulau tak berpenghuni di film Cast Away, tapi dia hampir gila tanpa Wilson si Bola Voli.

Poin-nya apa? Interaksi antar manusia itu kebutuhan bagi pelakunya. Manusia butuh menyampaikan gagasannya dengan cara berkomunikasi dengan orang lain. Iya, termasuk anda yang sedang galau dan merasa merasa ingin sendiri tanpa di ganggu orang lain - justru, TERUTAMA anda.

Dari fakta itu, berkembang - tumbuh-nya media sosial adalah suatu keniscayaan. Sekedar untuk bercerita pengalaman hidup, berbagi ide pemikiran, atau ikut mengGOSok berita biar makin SIP, banyak orang sekarang tidak bisa lepas dari media jejaring sosial mereka.

Tapi, yang namanya media tentu banyak macamnya. Selain banyak media sosial - termasuk jejaring sosial yang sekarang berkembang pesat - yang mungkin anda khatam menyebutkannya, mungkin ada satu yang tak terpikirkan oleh anda: Toilet umum.

Toilet umum adalah media sosial. Anda yang pernah menggunakan sarana umum ini di terminal - terminal, pasar tradisional, atau tempat wisata mungkin tidak asing dengan coretan - coretan dari orang - orang yang over-kreatif di dinding toilet umum. Ditunjang dengan kondisi toilet yang umumnya tidak terawat, coretan - coretan tersebut seolah perwakilan celoteh dari kelas rakyat pemakainya.

Mulai dari ungkapan cinta terpendam, olok - olok macam 'Tono *gambar hati* Tini', atau tantangan berantem di toilet sekolah; sampai promosi nomor handphone semacam 'kalo mau puas call 0812*******', atau ungkapan kegalauan hati 'pulang malu, tak pulang rindu' yang ada di terminal atau pasar - pasar tradisional, celoteh toilet umum adalah ekspresi pemikiran penulisnya. Tentunya anda tidak akan menemukan yang semacam ini di tempat mewah semacam mall atau pasar modern yang terawat.

Meski cenderung negatif, celoteh toilet umum juga cenderung lebih jujur karena biasanya penulisnya anonim. Orang bisa (catet: bisa! bukan 'harus') ngapain aja di situ; nyumpahin orang, memaki - maki atasan, nyebarin nomor telfon orang yang gak disukai, sampai curhat aib pribadi, tanpa takut atau malu ketahuan. Seperti di tempat kerja saya; di pabrik ini ada 8 toilet yang di pakai mayoritas penghuni pabrik, 24 jam sehari. Selain tempat pelampiasan kegalauan perut, tempat ini juga dipakai pelampiasan aspirasi pemakainya, selain juga tempat istirahat dan 'smoking area' ilegal.

Dari olok - olokan berbau SARA (saling menyinggung asal suku), sampai keluhan soal status pekerjaan (yang masih kontrak berharap di angkat tetap; yang harian minta di angkat kontrak), bahkan soal bonus yang tidak merata, toilet mengungkap hal - hal yang tak terungkap. Karena penggunanya adalah komunitas tetap, disini pun ada trending topic. Contohnya ada salah satu karyawan yang namanya paling sering muncul di dinding toilet karena banyak yang kesal atau mungkin marah padanya, tapi tidak berani berbicara langsung; lama - lama yang tidak tahu pun jadi tahu dan ikut - ikutan menambahi. Atau sebaliknya, ada satu karyawan perempuan yang penampilannya dianggap lumayan menggoda mata, namanya pun ada di sekujur dinding toilet, gambaran fantasi terpendam orang - orang yang tidak kesampaian. Sampai ada yang memberi istilah 'selebriti toilet' untuk mereka.

Komunikasi dua arah pun bisa dilakukan di sini. Saling berbalas tulisan, misalnya ada yang nulis 'dasar si A muka tembok, cari muka di depan atasan', trus ada yang balas 'pengecut lu, klo brani ketemu gw langsung', di bales lagi 'hahaha..ngrasa lu ya'. Masih dilanjut lagi di bawahnya, 'klo brani ktemu gw depan pbrik ntar pulang'. Dibales lagi 'gw sif 2, bego. lu pulang ya gw brangkat'. Ok ok, memang gak persis seperti itu sih.

Disini pun bisa edit status; istimewanya, smua orang punya akses melakukannya. Misalnya ada tulisan 'gw suka ama retno', besok - besoknya tulisannya jadi kebaca 'gw suka ama ratno'.

Nggak melulu olok - olok dan keluhan, tulisan biasa pun ada. Ada yang menulis 'peace, love, unity, respect' dengan gambar logo Slank, atau OI-nya Iwan fals. Ada juga dukungan buat klub sepak bola kesayangan yang mau bertanding, lengkap dengan tantangan taruhan. Yang paling netral dan paling sadar tempat, saya baca di toilet pabrik saya yang lama, tulisannya begini 'gak usah tolah toleh, ngeden aja'.

Tidak ada komentar: