Namanya lumayan gampang diingat: Tarmo Trail. Lumayan keren 'kan? Yah, tergantung definisi anda soal keren sih. Memang gak seterkenal Dirty Harry, Moaning Myrtle, Rocket Racoon, atau Daffy Duck, tapi pola penamaan mereka serupa: dua kata; satu kata untuk nama umum, satu lagi sebagai penekanan identifitas khusus.
Nah, kalo Tarmo Trail? Kayaknya gak perlu nunggu Conan Edogawa ngebius Kogoro Mouri deh buat tahu kalau Tarmo itu nama aslinya. Berhubung dia orang jawa, mungkin nama panjangnya Sutarmo,atau Tarmono, entah yang mana. Nah, terus Trail-nya? Itu tunggangannya sehari-hari: Motor Trail. Lumayan 'kan?
Terus, emang siapa dia? Tarmo Trail cuma seorang tukang sol sepatu di pasar kecamatan kampung saya, sejak dari dulu sejauh saya bisa mengingat, dan mungkin sekarang pun masih. Terus apa istimewanya? Gayanya. Penampilannya. Kaos pas badan, rompi penuh emblem sana-sini, celana cutbray dengan sepatu boot ber-hak tinggi. Aksesoris rantai menggantung di pinggang, ditunjang badan yang lumayan berisi, rambut ikal gondrong macam personil soneta jaman dulu - plus cambang manly, hehe -, itu penampilannya sehari - hari. Ditambah kaca mata rayban hitam lebar model lawas, plus tunggangannya tadi: Motor Trail, entah model apa, Tarmo Trail adalah ikon fashion sejati kampung saya jaman saya kecil dulu.
Nyentrik, mungkin kata yang tepat juga untuk menyebutnya. Kenyataannya, meski jaman selalu berubah, mode selalu berganti, Tarmo Trail tetap setia dengan gayanya. Dan dia nampak nyaman bertahan dalam gaya yang sudah lama ditinggal orang itu. Dan kenapa enggak? Justru dia menunjukkan, setiap orang boleh bergaya, apapun latar belakangnya, sesuai minat masing-masing tentunya; itu yang membuat setiap orang unik. Dan Tarmo Trail tampaknya menikmati keunikannya. Tarmo Trail bukan lagi nama, tapi sudah menjadi trademark; merk dagang. Dia tak di sebut Mas Tarmo, Lek Tarmo, atau Pak De Tarmo; semua orang, tua atau pun muda hanya mengenalnya sebagai Tarmo Trail.
Buat anak-anak, unik bisa berarti seram. Makanya dulu waktu saya kecil, seingat saya Ibu - ibu suka bilang ''Awas lho, nanti biar di bawa sama Tarmo Trail'' untuk menakuti anaknya yang bandel.
Tapi, Tarmo Trail bukan satu - satunya orang di kampung saya yang selera modenya mentok dalam satu masa. Meet Darman..salah satu orang yang selera fashionnya stuck di tahun 70'an dan gak kemana - mana lagi setelah itu. Tetangga saya ini orangnya kurus, semampai tapi gak tinggi. Pakaiannya? Kemeja lengan panjang ketat pas badan dengan ujung lengan lebar, plus dengan beberapa kancing atas sengaja tidak dikancing sehingga dada bagian atas kelihatan. Celananya model cutbray yang bagian bawahnya muat dipakai sembunyi 5 ekor kucing, sementara rambutnya lurus gondrong.
Seingat saya, semua pakaian kang Darman memang modelnya seperti itu. Jadi kalo terlihat satu model bukan karena gak ganti - ganti. Nah, kang Darman ini punya beberapa saudara kandung, salah satunya laki - laki juga yang tidak terpaut jauh umurnya, namanya Darmin. Beda mereka, selera pakaian kang Darmin ini lebih umum, mengikuti zaman.
Sabtu, 31 Mei 2014
Sabtu, 17 Mei 2014
Jejaring Sosial Dalam Toilet Umum
Mengais - ngais ingatan dari pelajaran jaman sekolah SD dulu, manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Kita ( saya anggap anda yang membaca ini adalah manusia seperti saya ) tidak bisa hidup tanpa orang lain - yah, bahkan Tarzan pun butuh mama gorila yang membesarkannya. Ini bukan sekedar masalah cukup makan minum, tapi kejiwaan. Chuck Noland memang sanggup bertahan lebih dari empat tahun sendirian di pulau tak berpenghuni di film Cast Away, tapi dia hampir gila tanpa Wilson si Bola Voli.
Poin-nya apa? Interaksi antar manusia itu kebutuhan bagi pelakunya. Manusia butuh menyampaikan gagasannya dengan cara berkomunikasi dengan orang lain. Iya, termasuk anda yang sedang galau dan merasa merasa ingin sendiri tanpa di ganggu orang lain - justru, TERUTAMA anda.
Dari fakta itu, berkembang - tumbuh-nya media sosial adalah suatu keniscayaan. Sekedar untuk bercerita pengalaman hidup, berbagi ide pemikiran, atau ikut mengGOSok berita biar makin SIP, banyak orang sekarang tidak bisa lepas dari media jejaring sosial mereka.
Tapi, yang namanya media tentu banyak macamnya. Selain banyak media sosial - termasuk jejaring sosial yang sekarang berkembang pesat - yang mungkin anda khatam menyebutkannya, mungkin ada satu yang tak terpikirkan oleh anda: Toilet umum.
Toilet umum adalah media sosial. Anda yang pernah menggunakan sarana umum ini di terminal - terminal, pasar tradisional, atau tempat wisata mungkin tidak asing dengan coretan - coretan dari orang - orang yang over-kreatif di dinding toilet umum. Ditunjang dengan kondisi toilet yang umumnya tidak terawat, coretan - coretan tersebut seolah perwakilan celoteh dari kelas rakyat pemakainya.
Mulai dari ungkapan cinta terpendam, olok - olok macam 'Tono *gambar hati* Tini', atau tantangan berantem di toilet sekolah; sampai promosi nomor handphone semacam 'kalo mau puas call 0812*******', atau ungkapan kegalauan hati 'pulang malu, tak pulang rindu' yang ada di terminal atau pasar - pasar tradisional, celoteh toilet umum adalah ekspresi pemikiran penulisnya. Tentunya anda tidak akan menemukan yang semacam ini di tempat mewah semacam mall atau pasar modern yang terawat.
Meski cenderung negatif, celoteh toilet umum juga cenderung lebih jujur karena biasanya penulisnya anonim. Orang bisa (catet: bisa! bukan 'harus') ngapain aja di situ; nyumpahin orang, memaki - maki atasan, nyebarin nomor telfon orang yang gak disukai, sampai curhat aib pribadi, tanpa takut atau malu ketahuan. Seperti di tempat kerja saya; di pabrik ini ada 8 toilet yang di pakai mayoritas penghuni pabrik, 24 jam sehari. Selain tempat pelampiasan kegalauan perut, tempat ini juga dipakai pelampiasan aspirasi pemakainya, selain juga tempat istirahat dan 'smoking area' ilegal.
Dari olok - olokan berbau SARA (saling menyinggung asal suku), sampai keluhan soal status pekerjaan (yang masih kontrak berharap di angkat tetap; yang harian minta di angkat kontrak), bahkan soal bonus yang tidak merata, toilet mengungkap hal - hal yang tak terungkap. Karena penggunanya adalah komunitas tetap, disini pun ada trending topic. Contohnya ada salah satu karyawan yang namanya paling sering muncul di dinding toilet karena banyak yang kesal atau mungkin marah padanya, tapi tidak berani berbicara langsung; lama - lama yang tidak tahu pun jadi tahu dan ikut - ikutan menambahi. Atau sebaliknya, ada satu karyawan perempuan yang penampilannya dianggap lumayan menggoda mata, namanya pun ada di sekujur dinding toilet, gambaran fantasi terpendam orang - orang yang tidak kesampaian. Sampai ada yang memberi istilah 'selebriti toilet' untuk mereka.
Komunikasi dua arah pun bisa dilakukan di sini. Saling berbalas tulisan, misalnya ada yang nulis 'dasar si A muka tembok, cari muka di depan atasan', trus ada yang balas 'pengecut lu, klo brani ketemu gw langsung', di bales lagi 'hahaha..ngrasa lu ya'. Masih dilanjut lagi di bawahnya, 'klo brani ktemu gw depan pbrik ntar pulang'. Dibales lagi 'gw sif 2, bego. lu pulang ya gw brangkat'. Ok ok, memang gak persis seperti itu sih.
Disini pun bisa edit status; istimewanya, smua orang punya akses melakukannya. Misalnya ada tulisan 'gw suka ama retno', besok - besoknya tulisannya jadi kebaca 'gw suka ama ratno'.
Nggak melulu olok - olok dan keluhan, tulisan biasa pun ada. Ada yang menulis 'peace, love, unity, respect' dengan gambar logo Slank, atau OI-nya Iwan fals. Ada juga dukungan buat klub sepak bola kesayangan yang mau bertanding, lengkap dengan tantangan taruhan. Yang paling netral dan paling sadar tempat, saya baca di toilet pabrik saya yang lama, tulisannya begini 'gak usah tolah toleh, ngeden aja'.
Poin-nya apa? Interaksi antar manusia itu kebutuhan bagi pelakunya. Manusia butuh menyampaikan gagasannya dengan cara berkomunikasi dengan orang lain. Iya, termasuk anda yang sedang galau dan merasa merasa ingin sendiri tanpa di ganggu orang lain - justru, TERUTAMA anda.
Dari fakta itu, berkembang - tumbuh-nya media sosial adalah suatu keniscayaan. Sekedar untuk bercerita pengalaman hidup, berbagi ide pemikiran, atau ikut mengGOSok berita biar makin SIP, banyak orang sekarang tidak bisa lepas dari media jejaring sosial mereka.
Tapi, yang namanya media tentu banyak macamnya. Selain banyak media sosial - termasuk jejaring sosial yang sekarang berkembang pesat - yang mungkin anda khatam menyebutkannya, mungkin ada satu yang tak terpikirkan oleh anda: Toilet umum.
Toilet umum adalah media sosial. Anda yang pernah menggunakan sarana umum ini di terminal - terminal, pasar tradisional, atau tempat wisata mungkin tidak asing dengan coretan - coretan dari orang - orang yang over-kreatif di dinding toilet umum. Ditunjang dengan kondisi toilet yang umumnya tidak terawat, coretan - coretan tersebut seolah perwakilan celoteh dari kelas rakyat pemakainya.
Mulai dari ungkapan cinta terpendam, olok - olok macam 'Tono *gambar hati* Tini', atau tantangan berantem di toilet sekolah; sampai promosi nomor handphone semacam 'kalo mau puas call 0812*******', atau ungkapan kegalauan hati 'pulang malu, tak pulang rindu' yang ada di terminal atau pasar - pasar tradisional, celoteh toilet umum adalah ekspresi pemikiran penulisnya. Tentunya anda tidak akan menemukan yang semacam ini di tempat mewah semacam mall atau pasar modern yang terawat.
Meski cenderung negatif, celoteh toilet umum juga cenderung lebih jujur karena biasanya penulisnya anonim. Orang bisa (catet: bisa! bukan 'harus') ngapain aja di situ; nyumpahin orang, memaki - maki atasan, nyebarin nomor telfon orang yang gak disukai, sampai curhat aib pribadi, tanpa takut atau malu ketahuan. Seperti di tempat kerja saya; di pabrik ini ada 8 toilet yang di pakai mayoritas penghuni pabrik, 24 jam sehari. Selain tempat pelampiasan kegalauan perut, tempat ini juga dipakai pelampiasan aspirasi pemakainya, selain juga tempat istirahat dan 'smoking area' ilegal.
Dari olok - olokan berbau SARA (saling menyinggung asal suku), sampai keluhan soal status pekerjaan (yang masih kontrak berharap di angkat tetap; yang harian minta di angkat kontrak), bahkan soal bonus yang tidak merata, toilet mengungkap hal - hal yang tak terungkap. Karena penggunanya adalah komunitas tetap, disini pun ada trending topic. Contohnya ada salah satu karyawan yang namanya paling sering muncul di dinding toilet karena banyak yang kesal atau mungkin marah padanya, tapi tidak berani berbicara langsung; lama - lama yang tidak tahu pun jadi tahu dan ikut - ikutan menambahi. Atau sebaliknya, ada satu karyawan perempuan yang penampilannya dianggap lumayan menggoda mata, namanya pun ada di sekujur dinding toilet, gambaran fantasi terpendam orang - orang yang tidak kesampaian. Sampai ada yang memberi istilah 'selebriti toilet' untuk mereka.
Komunikasi dua arah pun bisa dilakukan di sini. Saling berbalas tulisan, misalnya ada yang nulis 'dasar si A muka tembok, cari muka di depan atasan', trus ada yang balas 'pengecut lu, klo brani ketemu gw langsung', di bales lagi 'hahaha..ngrasa lu ya'. Masih dilanjut lagi di bawahnya, 'klo brani ktemu gw depan pbrik ntar pulang'. Dibales lagi 'gw sif 2, bego. lu pulang ya gw brangkat'. Ok ok, memang gak persis seperti itu sih.
Disini pun bisa edit status; istimewanya, smua orang punya akses melakukannya. Misalnya ada tulisan 'gw suka ama retno', besok - besoknya tulisannya jadi kebaca 'gw suka ama ratno'.
Nggak melulu olok - olok dan keluhan, tulisan biasa pun ada. Ada yang menulis 'peace, love, unity, respect' dengan gambar logo Slank, atau OI-nya Iwan fals. Ada juga dukungan buat klub sepak bola kesayangan yang mau bertanding, lengkap dengan tantangan taruhan. Yang paling netral dan paling sadar tempat, saya baca di toilet pabrik saya yang lama, tulisannya begini 'gak usah tolah toleh, ngeden aja'.
Rabu, 14 Mei 2014
Bicara Film dan Internet
Saya sudah sejak dulu suka menonton film, tapi ada bedanya antara menjadi penikmat film dulu dengan sekarang. Di jaman sekarang, di mana kemajuan teknologi komunikasi dan informasi sedikit banyak telah mengubah tata cara interaksi sosial masyarakat global, dunia perfilman pun tak bisa luput dari imbasnya. Studio - studio film bisa melakukan promosi untuk film - film mereka jauh sebelum filmnya sendiri dibuat. Lewat media online, jejaring sosial, atau situs - situs internet lain, masyarakat umum bisa mengikuti perkembangan sebuah film yang akan dibuat, bahkan sebelum kasting pemain dimulai.
Saya juga suka internet. Bagi saya, internet itu pencapaian manusia yang luar biasa. Bayangkan seperti ini: pengetahuan kumulatif orang - orang di penjuru dunia terkumpul dalam satu tempat, dan kita punya akses terbuka untuk melihatnya setiap saat. Apa tidak hebat 'tuh? Sehubungan dengan film, saya suka membaca info - info seputar film, atau apa saja tentang sebuah film, di internet. Biasanya saya membacanya di situs Wikipedia dan Imdb. Kapan saja. Pokoknya begitu terlintas pengin tahu tentang sesuatu, langsung buka internet.
Saat mencari tahu tentang sebuah film biasanya saya langsung ketikkan judul film tersebut di mesin pencari, dan dua situs di atas akan muncul di antara hasil teratas. Umumnya saya mulai dari wikipedia, melihat latar belakang film tersebut, tahun pembuatan, atau siapa sutradara dan pemainnya, lalu masuk plot cerita. Kemudian di Imdb saya melihat fakta - fakta menarik dari film tersebut di bagian Trivia, terus membaca quotes atau goofs-nya.
Pecinta film atau bukan, saya memang tidak selalu menonton film di bioskop. Kecuali untuk film yang benar - benar saya suka, saya cukup puas melihat film - film lain di layar kecil; di televisi atau DVD. Untuk film - film baru tentu saja harus melewati beberapa musim duren dulu sebelum bisa menonton di tv sambil leyeh - leyeh tiduran. Pilihan lain, ya DVD. Tapi ini pun harus sabar, putar - putar nyari di toko kaset sambil rajin nanya ke mbak yang jual, 'yang ini gambarnya udah bagus belum, mbak?'. Syukur kalo dijawab 'udah. Udah kopi ori tuh, mas'. Nah, kalo dijawab belum, tapi lumayan pengen nonton, ya siap - siap aja nonton sambil miring - miringin kepala.
Alasannya umum sih; harga DVD orisinil atau BluRay masih terbilang mahal, itu pun masih harus menunggu agak lama dari setelah filmnya tayang di bioskop. Lagi pula, kalo tidak cukup tertarik untuk melihat sebuah film di bioskop biasanya juga tidak cukup rela mengeluarkan uang lebih untuk membeli BluRay, misalnya. Sementara untuk film yang sudah ditonton di bioskop, membeli DVD biasanya untuk koleksi kalau ingin menonton lagi. Kalo pun sudah keluar DVD orisinilnya, yang bajakan tetap banyak jadi pilihan karena biasanya kualitasnya meningkat seiring waktu, sementara harganya tetap lebih murah dari harga bakso di warung sebelahnya (dengan ini resmi sudah bahwa alasan ''harus menunggu lama..'' sebagai alasan untuk tidak membeli yang orisinil di awal paragraf ini dinyatakan tidak invalid!).
Kembali soal internet, dua entri yang sering saya masukkan di mesin pencari hampir tiap hari selama beberapa bulan belakangan adalah Avengers: Age of Ultron dan Batman vs Superman, dua film yang saat ini paling ingin saya tonton nantinya. Begitu penginnya sampai punya niat untuk beli BluRay-nya suatu saat nanti?? Hmmm, pertanyaan jebakan.
Saya juga suka internet. Bagi saya, internet itu pencapaian manusia yang luar biasa. Bayangkan seperti ini: pengetahuan kumulatif orang - orang di penjuru dunia terkumpul dalam satu tempat, dan kita punya akses terbuka untuk melihatnya setiap saat. Apa tidak hebat 'tuh? Sehubungan dengan film, saya suka membaca info - info seputar film, atau apa saja tentang sebuah film, di internet. Biasanya saya membacanya di situs Wikipedia dan Imdb. Kapan saja. Pokoknya begitu terlintas pengin tahu tentang sesuatu, langsung buka internet.
Saat mencari tahu tentang sebuah film biasanya saya langsung ketikkan judul film tersebut di mesin pencari, dan dua situs di atas akan muncul di antara hasil teratas. Umumnya saya mulai dari wikipedia, melihat latar belakang film tersebut, tahun pembuatan, atau siapa sutradara dan pemainnya, lalu masuk plot cerita. Kemudian di Imdb saya melihat fakta - fakta menarik dari film tersebut di bagian Trivia, terus membaca quotes atau goofs-nya.
Pecinta film atau bukan, saya memang tidak selalu menonton film di bioskop. Kecuali untuk film yang benar - benar saya suka, saya cukup puas melihat film - film lain di layar kecil; di televisi atau DVD. Untuk film - film baru tentu saja harus melewati beberapa musim duren dulu sebelum bisa menonton di tv sambil leyeh - leyeh tiduran. Pilihan lain, ya DVD. Tapi ini pun harus sabar, putar - putar nyari di toko kaset sambil rajin nanya ke mbak yang jual, 'yang ini gambarnya udah bagus belum, mbak?'. Syukur kalo dijawab 'udah. Udah kopi ori tuh, mas'. Nah, kalo dijawab belum, tapi lumayan pengen nonton, ya siap - siap aja nonton sambil miring - miringin kepala.
Alasannya umum sih; harga DVD orisinil atau BluRay masih terbilang mahal, itu pun masih harus menunggu agak lama dari setelah filmnya tayang di bioskop. Lagi pula, kalo tidak cukup tertarik untuk melihat sebuah film di bioskop biasanya juga tidak cukup rela mengeluarkan uang lebih untuk membeli BluRay, misalnya. Sementara untuk film yang sudah ditonton di bioskop, membeli DVD biasanya untuk koleksi kalau ingin menonton lagi. Kalo pun sudah keluar DVD orisinilnya, yang bajakan tetap banyak jadi pilihan karena biasanya kualitasnya meningkat seiring waktu, sementara harganya tetap lebih murah dari harga bakso di warung sebelahnya (dengan ini resmi sudah bahwa alasan ''harus menunggu lama..'' sebagai alasan untuk tidak membeli yang orisinil di awal paragraf ini dinyatakan tidak invalid!).
Kembali soal internet, dua entri yang sering saya masukkan di mesin pencari hampir tiap hari selama beberapa bulan belakangan adalah Avengers: Age of Ultron dan Batman vs Superman, dua film yang saat ini paling ingin saya tonton nantinya. Begitu penginnya sampai punya niat untuk beli BluRay-nya suatu saat nanti?? Hmmm, pertanyaan jebakan.
Kamis, 08 Mei 2014
Naik Turunnya Harga Tiket Bioskop
Hari ini beberapa jam yang lalu, saya baru saja menonton film Marmut Merah Jambu-nya Raditya Dika, film kedua yang saya tonton di bulan ini. Iya, memang masih awal bulan, tanggal muda, dan masih ada jatah dua film lagi yang pengin ditonton sebelum bulan ini habis.
Sebagai sekedar penikmat film yang bukan maniak film, moviefreak, atau apapun sebutannya, saya cukup update tentang film-film yang bakal atau sedang beredar di bioskop. Saya punya daftar beberapa film yang ingin di tonton sampai beberapa bulan kedepan; beberapa bahkan masih hitungan tahun sebelum rilis. Tidak banyak film indonesia masuk dalam daftar ''the most pengen ditonton movies'' saya itu. Yah, tepatnya hanya satu sih, dan itu sebenarnya bukan Marmut-nya Dika ini.
Tapi saya bukan mau ngomongin film itu disini (atau mungkin sedikit aja kali ya: filmnya lumayan menghibur kok). Yang saya mau bahas justru harga tiketnya. Kenapa? Naik, jadi mahal? Bukan, justru malah turun. Iya, turun. Lebih murah. Saya bukannya baru tau sih, tapi sudah dari sebelumnya waktu saya mencari - cari jadwal bioskop di internet. Saya lihat di situ, kok harga tiketnya beda dari biasanya.
Memang sih, tidak semua bioskop turun harga. Yang lain justru naik. Tapi bukannya justru ini tambah aneh? Sama-sama satu jaringan, kok bisa beda-beda gitu. Oya, bioskop langganan saya ada di mall Metropolis. Selain jaraknya lebih dekat, harganya juga ramah. Sebelumnya, harga tiket hari senin-kamis Rp 25rb, hari jum'at Rp 30rb, sementara pada hari libur/sabtu/minggu Rp 35rb. Sekarang, harga tiket hari senin-kamis turun jadi Rp 15rb, hari jum'at jadi Rp 20rb, dan di hari libur/sabtu/minggu jadi Rp 25rb saja.
Saya bukannya keberatan sih; karena justru bukannya konsumen yang diuntungkan? Cuma jadinya saya bertanya-tanya saja, kenapa justru turun harga, sementara di bioskop alternatif saya yaitu Karawaci 21 memang dari awalnya saja sudah lebih mahal dibandingkan di Metropolis, dan tidak turun.
Yah, sudahlah, toh dengan begini mungkin daftar nonton saya bisa sedikit ditambah. Atau dana yang tersisa bisa di alih-alokasi-kan ke camilan dan minuman bekal nonton.
Sekian dan salam.
Sebagai sekedar penikmat film yang bukan maniak film, moviefreak, atau apapun sebutannya, saya cukup update tentang film-film yang bakal atau sedang beredar di bioskop. Saya punya daftar beberapa film yang ingin di tonton sampai beberapa bulan kedepan; beberapa bahkan masih hitungan tahun sebelum rilis. Tidak banyak film indonesia masuk dalam daftar ''the most pengen ditonton movies'' saya itu. Yah, tepatnya hanya satu sih, dan itu sebenarnya bukan Marmut-nya Dika ini.
Tapi saya bukan mau ngomongin film itu disini (atau mungkin sedikit aja kali ya: filmnya lumayan menghibur kok). Yang saya mau bahas justru harga tiketnya. Kenapa? Naik, jadi mahal? Bukan, justru malah turun. Iya, turun. Lebih murah. Saya bukannya baru tau sih, tapi sudah dari sebelumnya waktu saya mencari - cari jadwal bioskop di internet. Saya lihat di situ, kok harga tiketnya beda dari biasanya.
Memang sih, tidak semua bioskop turun harga. Yang lain justru naik. Tapi bukannya justru ini tambah aneh? Sama-sama satu jaringan, kok bisa beda-beda gitu. Oya, bioskop langganan saya ada di mall Metropolis. Selain jaraknya lebih dekat, harganya juga ramah. Sebelumnya, harga tiket hari senin-kamis Rp 25rb, hari jum'at Rp 30rb, sementara pada hari libur/sabtu/minggu Rp 35rb. Sekarang, harga tiket hari senin-kamis turun jadi Rp 15rb, hari jum'at jadi Rp 20rb, dan di hari libur/sabtu/minggu jadi Rp 25rb saja.
Saya bukannya keberatan sih; karena justru bukannya konsumen yang diuntungkan? Cuma jadinya saya bertanya-tanya saja, kenapa justru turun harga, sementara di bioskop alternatif saya yaitu Karawaci 21 memang dari awalnya saja sudah lebih mahal dibandingkan di Metropolis, dan tidak turun.
Yah, sudahlah, toh dengan begini mungkin daftar nonton saya bisa sedikit ditambah. Atau dana yang tersisa bisa di alih-alokasi-kan ke camilan dan minuman bekal nonton.
Sekian dan salam.
Langganan:
Postingan (Atom)