Senin, 09 Juni 2014

Borneo: The Journey

Masih tentang Kalimantan, ini pengalaman perjalanan saya ke ibukota salah satu provinsinya; Banjarmasin, ibukota Kalimantan Selatan.

Sekalian menambah pengalaman, tujuan saya waktu itu ke Kalimantan adalah mencari kerja. Setelah usaha menaruh lamaran di beberapa perusahaan tambang belum ada hasil, tanpa sengaja saya melihat lowongan kerja di koran setempat. Dalam kondisi biasa, iklan tersebut mungkin bakal biasa juga, tapi buat yang desperate macam saya waktu itu (haha..nggak juga sih), iklan tersebut jadi peluang yang pantas di coba.

Saya lihat nama PT-nya (lupa), syarat - syaratnya (hmm, memenuhi), posisi yang di tawarkan ( ah, sebodo amat), trus alamatnya..jrennnggg: Jl. Ahmad Yani Km.sekian No. sekian, BANJARMASIN. Waduh, disebelah mana tuh ya? Bahwa Banjarmasin adalah ibukota Kalimantan Selatan, itu sih saya tahu, tapi ke arah mana dan seberapa jauh dari posisi saya saat itu; Sei Kecil, kec. Batulicin, kab. Tanah Bumbu, saya benar - benar tidak ada bayangan.

Berbekal rasa penasaran dan semangat juang tinggi (the kepepet effect), saya mulai menceritakan niat sekaligus bertanya soal lokasi di Banjarmasin itu ke kenalan. Niat saya mantab, pergi ke Banjarmasin, entah di mana itu.

Senin, 14 mei 2006.
Berbekal sebuah alamat, tas punggung, kemeja putih dan celana bahan warna hitam pinjaman dari kenalan orang flores yang saya simpan dalam tas, sepatu kets, dan duit minimalis, menjelang siang saya berangkat ke terminal Batulicin dengan naik taksi (baca: angkot). Segera saya beli karcis tujuan Banjarmasin, kalau tidak salah harganya Rp 35ribu. Ternyata angkutan berwujud minibus itu harus menunggu penuh penumpang dulu sebelum berangkat, dan baru sekitar jam 11.30 mulai berangkat. Here we go...

Lepas dari daerah perkotaan, suasana perkampungan, hutan pegunungan, dan perkebunan langsung silih berganti. Detail sepanjang perjalanan agak kabur dalam ingatan saya, yang jelas bentang alamnya beda dengan di jawa. Berhubung masih di daerah pesisir, rawa - rawa umum dijumpai, juga sungai - sungai. Kami juga banyak melewati perkebunan kelapa sawit.

Kondisi jalan sih lumayan, beberapa juga lumayan jelek. Beberapa ruas jalan hanya berupa jalan makadam atau jalan tanah yang dikeraskan. Dipadu dengan lokasi daerah pesisir yang basah, klop sudah; arena off road bisa menanti di mana aja. Kadang kita harus melewati jembatan kecil yang dibuat dari entah batang pohon kelapa atau pohon sagu, yang tentu saja licin.

Dari hasil obrolan dengan teman duduk disamping saya, saya dapat gambaran sedikit tentang alamat yang saya tuju.

Di tengah perjalanan, mobil tiba - tiba berhenti, ternyata untuk menaikkan penumpang, padahal kursi sudah penuh. Di luar mobil ada beberapa pria dan wanita; ternyata mereka hanya mengantar saja, sedang yang naik hanya seorang, gadis yang saya terka usianya mungkin baru sekitar 13 sampai 15 tahun. Yang menarik, mereka berpamitan dengan penuh haru. Seorang wanita setengah baya yang mungkin ibunya terlihat seperti menasehatinya, sementara si gadis tidak berhenti menangis, seperti tidak rela pergi. Gadis itu duduk di bangku depan, di apit supir dan penumpang lain. Dari  tempat duduk saya yang di belakang, terlihat dia masih tetap menangis beberapa lama setelah berangkat. Entah dia pergi karena dipaksa, entah sedih meninggalkan keluarganya, ataupun kemana dan kenapa gadis semuda dia pergi sendirian, saya tak pernah tahu.

Saya sempat tertidur sebentar (tapi sering..dasar, tukang ngantuk!) di perjalanan, sehingga melewatkan beberapa keadaan perjalanan. Sekitar waktu Ashar mobil kami berhenti di rumah makan, memberi waktu penumpang untuk sholat, keperluan kamar mandi, dan makan. Saya pun makan.

Mobil kami meneruskan perjalanan, hingga akhirnya masuk ke terminal Banjarmasin sekitar pukul 05.30. Fiuh, inilah banjarmasin. Misi pertama accomplished lah. Sesuai saran teman perjalanan saya tadi, saya segera mencari ojek, buat mengantar saya ke alamat tujuan. Setelah kompak menengok kiri kanan sepanjang jl. Ahmad Yani, akhirnya kami menemukan juga gedung dengan nomor yang saya cari. Masalahnya, hari sudah gelap dan kantor itu pun sudah tutup. Terpaksa memang saya harus kembali esok hari, tapi harus kemana saya sekarang? Nah loh.

Saya mulai menelusuri jalan besar tersebut. Mengingat sudah masuk waktu maghrib, tujuan saya mencari masjid, sekalian beristirahat. Saya berjalan ke arah saya pertama datang. Banjarmasin lumayan ramai, suasananya tidak beda dengan kota - kota besar lain di jawa. Jalan mulus dan lebar, di apit penuh dengan bangunan, sementara sungai mengalir di sepanjang sisinya.

Di sebelah kiri arah saya jalan, saya menemukan sebuah masjid besar. Setelah ikut sholat maghrib berjamaah, saya mencari penjaganya untuk meminta ijin menumpang menginap. Ternyata ditolak, alasannya karena masjid dikunci kalau malam hari. Saya merasa penjaga masjid agak kurang ramah terhadap saya, maka saya putuskan mencari tempat lain. Tidak jauh dari situ, saya mampir makan di kedai tenda di pinggir jalan. Ternyata penjualnya orang jawa. Agak jauh dari situ ada masjid juga, kali ini di sebelah kiri, lebih kecil dari yang pertama. Saya sholat isya' di situ. Setelah sholat, kali ini saya tak menemukan penjaga masjid, jadi saya tidur saja di situ.

Subuh, saya bukan bangun oleh adzan, tapi oleh tukang - tukang sayur yang mampir dulu untuk sholat subuh, sekalian menyiapkan gerobak dagangannya. Setelah subuhan, saya numpang cuci muka (tidak boleh numpang mandi, kata penjaganya yang sekarang baru ada) dan ganti pakaian dengan baju pinjaman itu. Lagi - lagi jalan kaki, saya menuju kantor itu lagi, sudah ramai orang di situ. Saya menemui petugas recruitment-nya, seorang Bali yang ramah. Ternyata lowongan itu untuk pekerjaan sales produk water purifier, huh..lagu lama ternyata. Bapak Bali itu menerangkan dengan berapi - api tentang prospek dan cara kerjanya dan bilang bahwa saya bisa mulai kerja besok pagi. Sebenarnya saya tidak tertarik, tapi saya tidak bilang menolak juga; saya bilang saya dari tempat jauh dan belum ada tempat menginap.

Saya baru sadar bahwa saya memang tidak ada persiapan apa - apa. Kalaupun saya terima, saya tinggal di mana, apa modal hidup saya? Mengingat saya juga tidak sreg dengan pekerjaannya, saya putuskan pulang ke batu licin lagi hari itu juga. Tak sempat mencari tempat, saya ganti baju di pinggir jalan, trus menuju terminal.

Hari itu juga sekitar maghrib saya tiba di batu licin. Setelah membayar angkot dari terminal, saya hitung - hitung sisa uang bekal saya di dompet tinggal beberapa ribu rupiah saja. Luar biasa!

Selasa, 03 Juni 2014

Borneo: The Beginning

Ini cerita perjalanan saya ke kalimantan bertahun - tahun lalu.

Rabu, 19 april 2006.
Lewat tengah malam menjelang jam 2 pagi di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, kapal Dharma Kencana sedang mengangkut penumpang baru. Setelah menunggu dari sore, Saya berdua dengan teman perjalanan saya - tetangga yang mengajak saya, tepatnya - bersiap naik juga; bukan melalui pintu penumpang, tapi ikut di dalam kokpit truk barang yang antri masuk melalui pintu besar di lambung kapal. Kok?

Ceritanya, dari pengalaman teman saya yang sudah sering naik kapal sebelumnya, akan jauh lebih hemat dengan nebeng truk begini. Caranya? Begini, biasanya truk barang yang akan menyeberang memakai kapal laut akan mendapat jatah 3 tiket; satu untuk sopir, dua tiket untuk kenek. Kadang si sopir berangkat tanpa kenek, sehingga jatah dua tiket lainnya umumnya dijual; yah, itung - itung uang rokok. Jadi kita tinggal ke tempat parkirnya truk - truk barang yang akan menyeberang itu, ngobrol - ngobrol sedikit nyari sopir yang berangkat sendirian untuk kita beli tiketnya. Tentu saja harganya bisa nego, yang jelas bisa jauh lebih murah daripada beli tiket di loket penumpang resmi. Waktu itu saya membayar Rp.65 ribu seorang, sekitar separuh harga di loket resmi. Lumayan, itung - itung a la backpacker.

Tentunya cara di atas hanya nyaman kalau kita berangkat tanpa membawa banyak barang.

Di dalam kapal, meski tak berkarcis resmi saya bebas mencari tempat duduk di ruangan - ruangan lain, tak melulu harus ikut rombongan sopir. Kapal mulai bergerak perlahan, meninggalkan pulau jawa tercinta - yang pertama kali dalam dua dasawarsa lebih.

Pertama kali naik kapal, saya jelajahi sebanyak mungkin bagian - bagiannya, tingkat per tingkat. Puas menikmati angin laut di luar saya mencari tempat istirahat di dalam, maklum, masih gelap. Tidak susah saya dapat tempat duduk, sekedar buat tidur. Tak ada pemeriksaan karcis. Pagi - pagi saya udah bangun lebih segar, langsung ke geladak atas buat menikmati angin pagi.

Geladak atas jadi tempat favorit banyak orang. Dari sini sepanjang mata memandang ke sekeliling kapal hanya ada air dan air. Geladak di 'buritan' (barusan dapat namanya dari googling, maklum, sering gak bisa bedain mana buritan, mana haluan - buritan di belakang, haluan di depan) posisinya lebih enak buat menikmati pandangan.Iya, dalam hal ini saya beda pendapat dengan mas Jack dan mbak Rose yang lebih suka berdiri di haluan. Dari buritan, kita bisa jelas melihat air di belakang kapal yang berombak teratur hasil dorongan mesin kapal.

Di dalam pun ada hiburan. Di satu ruangan sudah di sediakan satu grup organ tunggal buat para dangduters. Ada juga televisi yang memutar kaset video film hampir non stop. Seingat saya waktu itu yang saya tonton ada The Last Samurai-nya Tom Cruise, Mrs. Doubtfire-nya Robin Williams, dan Entrapment-nya Catherine Zeta-Jones dan Sean Connery. Film - film lama memang, bahkan buat waktu itu.

Dengan karcis kenek itu saya dapat jatah makan juga. Nasi yang agak keras dengan potongan ayam goreng, sayur, dan potongan kecil buah semangka. Lumayan lah.

Di tengah banyaknya penumpang kapal itu kebetulan teman saya bertemu kenalannya yang satu tujuan - oya, kapal ini menuju Banjarmasin, dengan transit terlebih dulu di pelabuhan Batu Licin, tujuan kami. Mereka, kenalan teman saya itu, orang - orang asal jawa timur yang mau kembali ke perantauan di sana.

Kamis, 20 april 2006.
Lagi - lagi tengah malam, setelah sekitar 24 jam di atas kapal, mulai terlihat pemandangan lain di kejauhan. Cahaya tampak berkelap - kelip di kejauhan. Gundukan daratan mulai tampak di kegelapan. Kata orang, itulah Pagatan, salah satu daerah pantai kalimantan selatan. Tapi bukan tujuan kami.

Beberapa lama, suasana mulai riuh, tujuan semakin dekat. Kapal kami ditarik oleh kapal pemandu yang lebih kecil untuk mendekati pelabuhan.

Jam 02.00 pagi, untuk pertama kalinya saya menjejakkan kaki di pelabuhan Batu Licin, Kalimantan Selatan, tanah Borneo.

Sabtu, 31 Mei 2014

Tarmo Trail: The Legacy

Namanya lumayan gampang diingat: Tarmo Trail. Lumayan keren 'kan? Yah, tergantung definisi anda soal keren sih. Memang gak seterkenal Dirty Harry, Moaning Myrtle, Rocket Racoon, atau Daffy Duck, tapi pola penamaan mereka serupa: dua kata; satu kata untuk nama umum, satu lagi sebagai penekanan identifitas khusus.

Nah, kalo Tarmo Trail? Kayaknya gak perlu nunggu Conan Edogawa ngebius Kogoro Mouri deh buat tahu kalau Tarmo itu nama aslinya. Berhubung dia orang jawa, mungkin nama panjangnya Sutarmo,atau Tarmono, entah yang mana. Nah, terus Trail-nya? Itu tunggangannya sehari-hari: Motor Trail. Lumayan 'kan?

Terus, emang siapa dia? Tarmo Trail cuma seorang tukang sol sepatu di pasar kecamatan kampung saya, sejak dari dulu sejauh saya bisa mengingat, dan mungkin sekarang pun masih. Terus apa istimewanya? Gayanya. Penampilannya. Kaos pas badan, rompi penuh emblem sana-sini, celana cutbray dengan sepatu boot ber-hak tinggi. Aksesoris rantai menggantung di pinggang, ditunjang badan yang lumayan berisi, rambut ikal gondrong macam personil soneta jaman dulu - plus cambang manly, hehe -, itu penampilannya sehari - hari. Ditambah kaca mata rayban hitam lebar model lawas, plus tunggangannya tadi: Motor Trail, entah model apa, Tarmo Trail adalah ikon fashion sejati kampung saya jaman saya kecil dulu.

Nyentrik, mungkin kata yang tepat juga untuk menyebutnya. Kenyataannya, meski jaman selalu berubah, mode selalu berganti, Tarmo Trail tetap setia dengan gayanya. Dan dia nampak nyaman bertahan dalam gaya yang sudah lama ditinggal orang itu. Dan kenapa enggak? Justru dia menunjukkan, setiap orang boleh bergaya, apapun latar belakangnya, sesuai minat masing-masing tentunya; itu yang membuat setiap orang unik. Dan Tarmo Trail tampaknya menikmati keunikannya. Tarmo Trail bukan lagi nama, tapi sudah menjadi trademark; merk dagang. Dia tak di sebut Mas Tarmo, Lek Tarmo, atau Pak De Tarmo; semua orang, tua atau pun muda hanya mengenalnya sebagai Tarmo Trail.

Buat anak-anak, unik bisa berarti seram. Makanya dulu waktu saya kecil, seingat saya Ibu - ibu suka bilang ''Awas lho, nanti biar di bawa sama Tarmo Trail'' untuk menakuti anaknya yang bandel.

Tapi, Tarmo Trail bukan satu - satunya orang di kampung saya yang selera modenya mentok dalam satu masa. Meet Darman..salah satu orang yang selera fashionnya stuck di tahun 70'an dan gak kemana - mana lagi setelah itu. Tetangga saya ini orangnya kurus, semampai tapi gak tinggi. Pakaiannya? Kemeja lengan panjang ketat pas badan dengan ujung lengan lebar, plus dengan beberapa kancing atas sengaja tidak dikancing sehingga dada bagian atas kelihatan. Celananya model cutbray yang bagian bawahnya muat dipakai sembunyi 5 ekor kucing, sementara rambutnya lurus gondrong.

Seingat saya, semua pakaian kang Darman memang modelnya seperti itu. Jadi kalo terlihat satu model bukan karena gak ganti - ganti. Nah, kang Darman ini punya beberapa saudara kandung, salah satunya laki - laki juga yang tidak terpaut jauh umurnya, namanya Darmin. Beda mereka, selera pakaian kang Darmin ini lebih umum, mengikuti zaman.


Sabtu, 17 Mei 2014

Jejaring Sosial Dalam Toilet Umum

Mengais - ngais ingatan dari pelajaran jaman sekolah SD dulu, manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Kita ( saya anggap anda yang membaca ini adalah manusia seperti saya ) tidak bisa hidup tanpa orang lain - yah, bahkan Tarzan pun butuh mama gorila yang membesarkannya. Ini bukan sekedar masalah cukup makan minum, tapi kejiwaan. Chuck Noland memang sanggup bertahan lebih dari empat tahun sendirian di pulau tak berpenghuni di film Cast Away, tapi dia hampir gila tanpa Wilson si Bola Voli.

Poin-nya apa? Interaksi antar manusia itu kebutuhan bagi pelakunya. Manusia butuh menyampaikan gagasannya dengan cara berkomunikasi dengan orang lain. Iya, termasuk anda yang sedang galau dan merasa merasa ingin sendiri tanpa di ganggu orang lain - justru, TERUTAMA anda.

Dari fakta itu, berkembang - tumbuh-nya media sosial adalah suatu keniscayaan. Sekedar untuk bercerita pengalaman hidup, berbagi ide pemikiran, atau ikut mengGOSok berita biar makin SIP, banyak orang sekarang tidak bisa lepas dari media jejaring sosial mereka.

Tapi, yang namanya media tentu banyak macamnya. Selain banyak media sosial - termasuk jejaring sosial yang sekarang berkembang pesat - yang mungkin anda khatam menyebutkannya, mungkin ada satu yang tak terpikirkan oleh anda: Toilet umum.

Toilet umum adalah media sosial. Anda yang pernah menggunakan sarana umum ini di terminal - terminal, pasar tradisional, atau tempat wisata mungkin tidak asing dengan coretan - coretan dari orang - orang yang over-kreatif di dinding toilet umum. Ditunjang dengan kondisi toilet yang umumnya tidak terawat, coretan - coretan tersebut seolah perwakilan celoteh dari kelas rakyat pemakainya.

Mulai dari ungkapan cinta terpendam, olok - olok macam 'Tono *gambar hati* Tini', atau tantangan berantem di toilet sekolah; sampai promosi nomor handphone semacam 'kalo mau puas call 0812*******', atau ungkapan kegalauan hati 'pulang malu, tak pulang rindu' yang ada di terminal atau pasar - pasar tradisional, celoteh toilet umum adalah ekspresi pemikiran penulisnya. Tentunya anda tidak akan menemukan yang semacam ini di tempat mewah semacam mall atau pasar modern yang terawat.

Meski cenderung negatif, celoteh toilet umum juga cenderung lebih jujur karena biasanya penulisnya anonim. Orang bisa (catet: bisa! bukan 'harus') ngapain aja di situ; nyumpahin orang, memaki - maki atasan, nyebarin nomor telfon orang yang gak disukai, sampai curhat aib pribadi, tanpa takut atau malu ketahuan. Seperti di tempat kerja saya; di pabrik ini ada 8 toilet yang di pakai mayoritas penghuni pabrik, 24 jam sehari. Selain tempat pelampiasan kegalauan perut, tempat ini juga dipakai pelampiasan aspirasi pemakainya, selain juga tempat istirahat dan 'smoking area' ilegal.

Dari olok - olokan berbau SARA (saling menyinggung asal suku), sampai keluhan soal status pekerjaan (yang masih kontrak berharap di angkat tetap; yang harian minta di angkat kontrak), bahkan soal bonus yang tidak merata, toilet mengungkap hal - hal yang tak terungkap. Karena penggunanya adalah komunitas tetap, disini pun ada trending topic. Contohnya ada salah satu karyawan yang namanya paling sering muncul di dinding toilet karena banyak yang kesal atau mungkin marah padanya, tapi tidak berani berbicara langsung; lama - lama yang tidak tahu pun jadi tahu dan ikut - ikutan menambahi. Atau sebaliknya, ada satu karyawan perempuan yang penampilannya dianggap lumayan menggoda mata, namanya pun ada di sekujur dinding toilet, gambaran fantasi terpendam orang - orang yang tidak kesampaian. Sampai ada yang memberi istilah 'selebriti toilet' untuk mereka.

Komunikasi dua arah pun bisa dilakukan di sini. Saling berbalas tulisan, misalnya ada yang nulis 'dasar si A muka tembok, cari muka di depan atasan', trus ada yang balas 'pengecut lu, klo brani ketemu gw langsung', di bales lagi 'hahaha..ngrasa lu ya'. Masih dilanjut lagi di bawahnya, 'klo brani ktemu gw depan pbrik ntar pulang'. Dibales lagi 'gw sif 2, bego. lu pulang ya gw brangkat'. Ok ok, memang gak persis seperti itu sih.

Disini pun bisa edit status; istimewanya, smua orang punya akses melakukannya. Misalnya ada tulisan 'gw suka ama retno', besok - besoknya tulisannya jadi kebaca 'gw suka ama ratno'.

Nggak melulu olok - olok dan keluhan, tulisan biasa pun ada. Ada yang menulis 'peace, love, unity, respect' dengan gambar logo Slank, atau OI-nya Iwan fals. Ada juga dukungan buat klub sepak bola kesayangan yang mau bertanding, lengkap dengan tantangan taruhan. Yang paling netral dan paling sadar tempat, saya baca di toilet pabrik saya yang lama, tulisannya begini 'gak usah tolah toleh, ngeden aja'.

Rabu, 14 Mei 2014

Bicara Film dan Internet

Saya sudah sejak dulu suka menonton film, tapi ada bedanya antara menjadi penikmat film dulu dengan sekarang. Di jaman sekarang, di mana kemajuan teknologi komunikasi dan informasi sedikit banyak telah mengubah tata cara interaksi sosial masyarakat global, dunia perfilman pun tak bisa luput dari imbasnya. Studio - studio film bisa melakukan promosi untuk film - film mereka jauh sebelum filmnya sendiri dibuat. Lewat media online, jejaring sosial, atau situs - situs internet lain, masyarakat umum bisa mengikuti perkembangan sebuah film yang akan dibuat, bahkan sebelum kasting pemain dimulai.

Saya juga suka internet. Bagi saya, internet itu pencapaian manusia yang luar biasa. Bayangkan seperti ini: pengetahuan kumulatif orang - orang di penjuru dunia terkumpul dalam satu tempat, dan kita punya akses terbuka untuk melihatnya setiap saat. Apa tidak hebat 'tuh? Sehubungan dengan film, saya suka membaca info - info seputar film, atau apa saja tentang sebuah film, di internet. Biasanya saya membacanya di situs Wikipedia dan Imdb. Kapan saja. Pokoknya begitu terlintas pengin tahu tentang sesuatu, langsung buka internet.

Saat mencari tahu tentang sebuah film biasanya saya langsung ketikkan judul film tersebut di mesin pencari, dan dua situs di atas akan muncul di antara hasil teratas. Umumnya saya mulai dari wikipedia, melihat latar belakang film tersebut, tahun pembuatan, atau siapa sutradara dan pemainnya, lalu masuk plot cerita. Kemudian di Imdb saya melihat fakta - fakta menarik dari film tersebut di bagian Trivia, terus membaca quotes atau goofs-nya.

Pecinta film atau bukan, saya memang tidak selalu menonton film di bioskop. Kecuali untuk film yang benar - benar saya suka, saya cukup puas melihat film - film lain di layar kecil; di televisi atau DVD. Untuk film - film baru tentu saja harus melewati beberapa musim duren dulu sebelum bisa menonton di tv sambil leyeh - leyeh tiduran. Pilihan lain, ya DVD. Tapi ini pun harus sabar, putar - putar nyari di toko kaset sambil rajin nanya ke mbak yang jual, 'yang ini gambarnya udah bagus belum, mbak?'. Syukur kalo dijawab 'udah. Udah kopi ori tuh, mas'. Nah, kalo dijawab belum, tapi lumayan pengen nonton, ya siap - siap aja nonton sambil miring - miringin kepala.

Alasannya umum sih; harga DVD orisinil atau BluRay masih terbilang mahal, itu pun masih harus menunggu agak lama dari setelah filmnya tayang di bioskop. Lagi pula, kalo tidak cukup tertarik untuk melihat sebuah film di bioskop biasanya juga tidak cukup rela mengeluarkan uang lebih untuk membeli BluRay, misalnya. Sementara untuk film yang sudah ditonton di bioskop, membeli DVD biasanya untuk koleksi kalau ingin menonton lagi. Kalo pun sudah keluar DVD orisinilnya, yang bajakan tetap banyak jadi pilihan karena biasanya kualitasnya meningkat seiring waktu, sementara harganya tetap lebih murah dari harga bakso di warung sebelahnya (dengan ini resmi sudah bahwa alasan ''harus menunggu lama..'' sebagai alasan untuk tidak membeli yang orisinil di awal paragraf ini dinyatakan tidak invalid!).

Kembali soal internet, dua entri yang sering saya masukkan di mesin pencari hampir tiap hari selama beberapa bulan belakangan adalah Avengers: Age of Ultron dan Batman vs Superman, dua film yang saat ini paling ingin saya tonton nantinya. Begitu penginnya sampai punya niat untuk beli BluRay-nya suatu saat nanti?? Hmmm, pertanyaan jebakan.

Kamis, 08 Mei 2014

Naik Turunnya Harga Tiket Bioskop

Hari ini beberapa jam yang lalu, saya baru saja menonton film Marmut Merah Jambu-nya Raditya Dika, film kedua yang saya tonton di bulan ini. Iya, memang masih awal bulan, tanggal muda, dan masih ada jatah dua film lagi yang pengin ditonton sebelum bulan ini habis.

Sebagai sekedar penikmat film yang bukan maniak film, moviefreak, atau apapun sebutannya, saya cukup update tentang film-film yang bakal atau sedang beredar di bioskop. Saya punya daftar beberapa film yang ingin di tonton sampai beberapa bulan kedepan; beberapa bahkan masih hitungan tahun sebelum rilis. Tidak banyak film indonesia masuk dalam daftar ''the most pengen ditonton movies'' saya itu. Yah, tepatnya hanya satu sih, dan itu sebenarnya bukan Marmut-nya Dika ini.

Tapi saya bukan mau ngomongin film itu disini (atau mungkin sedikit aja kali ya: filmnya lumayan menghibur kok). Yang saya mau bahas justru harga tiketnya. Kenapa? Naik, jadi mahal? Bukan, justru malah turun. Iya, turun. Lebih murah. Saya bukannya baru tau sih, tapi sudah dari sebelumnya waktu saya mencari - cari jadwal bioskop di internet. Saya lihat di situ, kok harga tiketnya beda dari biasanya.

Memang sih, tidak semua bioskop turun harga. Yang lain justru naik. Tapi bukannya justru ini tambah aneh? Sama-sama satu jaringan, kok bisa beda-beda gitu. Oya, bioskop langganan saya ada di mall Metropolis. Selain jaraknya lebih dekat, harganya juga ramah. Sebelumnya, harga tiket hari senin-kamis Rp 25rb, hari jum'at Rp 30rb, sementara pada hari libur/sabtu/minggu Rp 35rb. Sekarang, harga tiket hari senin-kamis turun jadi Rp 15rb, hari jum'at jadi Rp 20rb, dan  di hari libur/sabtu/minggu jadi Rp 25rb saja.

Saya bukannya keberatan sih; karena justru bukannya konsumen yang diuntungkan? Cuma jadinya saya bertanya-tanya saja, kenapa justru turun harga, sementara di bioskop alternatif saya yaitu Karawaci 21 memang dari awalnya saja sudah lebih mahal dibandingkan di Metropolis, dan tidak turun.

Yah, sudahlah, toh dengan begini mungkin daftar nonton saya bisa sedikit ditambah. Atau dana yang tersisa bisa di alih-alokasi-kan ke camilan dan minuman bekal nonton.

Sekian dan salam.

Selasa, 01 April 2014

Pandangan Saya Tentang The Raid 2: Berandal

Mulai dari mana, ya? Oh ya, perkenalan saya dengan seri The Raid dimulai dari saat film pertamanya baru mulai dijajakan ke festival - festival di luar negeri. Respons yang positif, plus pengetahuan bahwa film ini dibuat oleh tim yang sama dengan tim di belakang film Merantau (2009) membuat saya tak sabar untuk langsung menontonnya begitu filmnya mulai diputar di bioskop lokal.

The Raid pertama, menurut saya, memang wajar mendapatkan puja - puji yang diterimanya; setidaknya beberapa. Film ini membawa warna baru , tidak saja bagi dunia sinema lokal, melainkan juga bagi sinema dunia; terkhusus dalam genre film aksi. Tidak pernah sebelumnya saya menonton film lokal seantusias seperti saat saya menyaksikan film tersebut.

Lalu, datanglah The Raid 2: Berandal. Otomatis ekspektasi saya lebih besar lagi kali ini. Sejak dari awal baru diumumkan akan dibuat pun saya mulai rajin mencari tahu segala info tentang film ini; seperti banyak orang lain yang menikmati film pertamanya. Dan harapan saya bahwa film ini akan menjadi film yang luar biasa makin hari makin meninggi, seiring berita - berita yang semakin mendukung ke arah itu, sebelum saya menyaksikan langsung filmnya jum'at kemarin.

Saya sudah mendengar banyak tentang film ini sebelum menontonnya. Ulasan - ulasan yang gila - gilaan baiknya dari orang - orang yang menyaksikannya lebih dulu lewat berbagai festival, serta dengan melihat sendiri trailer yang menarik dari film ini membuat saya sudah menyiapkan diri untuk menyaksikan yang jauh lebih gila lagi saat menontonnya di bioskop. Tapi sayangnya tidak terlalu tepat demikian.

Bagaimana, ya? The Raid 2: Berandal tidak jelek, tapi tidak gila - gilaan bagus juga seperti bayangan saya. Bayangan yang bukan berdasar harapan semata, tapi berdasar dari banyak berita yang saya dengar selama pembuatan film ini, termasuk dari sang sutradara Gareth Evans sendiri yang rajin berbagi perkembangan filmnya via akun Twitter pribadinya. Mr. Evans terdengar sangat antusias dan yakin dengan apa yang ia kerjakan dalam film ini, dan bagaimana film ini akan lebih luas, lebih besar, serta lebih kompleks dari segi cerita dan karakter dibandingkan film pertama. Sayangnya ,menurut saya justru di sinilah yang membuat film ini menjadi film yang tidak sebagus seperti seharusnya.

Layaknya film sekuel, adegan - adegan awal dalam film ini dimaksudkan sebagai penghubung dengan film pertama, sekaligus pembangun plot dan karakter untuk kepentingan cerita. ke depan. Sampai disini, fungsi pertama mungkin berhasil, terutama pasti bagi mereka yang mengikuti cerita film pertama; namun untuk fungsi kedua, penggalan - penggalan adegan awal agak terasa membingungkan. Gabungan narasi dan penceritaan secara flashback terasa tumpang tindih; sangat mungkin juga akibat narasi dan dialog yang kurang jelas, padahal adegan - adegan ini penting untuk pemahaman cerita berikutnya.

Jujur saja, saya bisa jelas mengikuti plot awal yang dibangun adegan - adegan film ini justru melalui ulasan - ulasan yang saya baca sebelumnya,terlebih dari bocoran - bocoran Mr. Evans sendiri, bukan melalui adegan - adegan yang saya tonton seperti seharusnya. Iya, semua tahu kali ini Rama si tokoh utama menjalankan sebuah misi dengan sengaja membiarkan dirinya tertangkap dan dipenjarakan. Tapi kenapa tahu - tahu dia dikeroyok tahanan - tahanan lain dalam adegan toilet itu? Untuk mencari perhatian Uco, mungkin, tapi bagaimana tahanan - tahanan itu menjadi begitu marahnya, tak jelas tergambar.

Lalu ada tokoh Beni, yang pertama muncul justru sedang duduk semeja dengan Uco, tapi berikutnya malah memimpin penyerangan terhadap Uco. Mungkin bisa dipahami bahwa Beni sebelumnya berada dipihak Uco kemudian berkhianat; untuk mendukung cerita bahwa keberadaan Uco memang selalu terancam dalam penjara itu dan bahwa tidak ada satu orang pun yang bisa dipercaya, sekaligus memberi kesempatan Rama untuk menyelamatkannya dan mengambil kepercayaannya. Tapi masalahnya hanya adegan duduk sebangku itulah satu - satunya yang menggambarkan hubungan mereka, dan terasa ganjil saat tahu - tahu Beni menyerang Uco.

Diceritakan, Rama berhasil selamat melewati 2 tahun hukuman penjara dan langsung diterima dalam keluarga kriminal Bangun. Hal pertama yang dilakukannya tentu mencari kabar keluargannya, istri dan anaknya yang pertama dipamiti hanya akan ditinggalkannya beberapa bulan saja. Entah karena akting Iko Uwais yang kurang maksimal, atau penulisan cerita yang tanpa emosi, adegan Rama berbicara dengan Isa sang istri untuk pertama kali dalam 2 tahun terasa datar. Padahal dari awal, keluarga adalah motivasi utama Rama dalam misinya. Keluarga adalah kompas moral tokoh Rama yang bisa membuat kita simpati dengan tokoh ini; yang tidak sekedar menjadikannya mesin petarung tanpa tanding; yang membedakannya dengan penjahat - penjahat yang di hadapinya meski sama - sama membunuh dengan brutal. Harusnya hubungan Rama dengan keluargannya bisa lebih di gali lagi.

Karakter Rama juga terasa lemah dalam film ini. Menyamar sebagai Yudha, misinya adalah masuk sedalam mungkin ke dalam lingkungan kriminal untuk mengungkap tuntas nama - nama polisi korup yang bisa mengancam keluarganya. Apa yang ia lakukan untuk itu? Hampir tidak ada, kecuali mengikuti Uco kemana -  mana. Selebihnya, Rama hanya jadi peserta pasif yang tidak bisa berbuat apa - apa menyaksikan kekerasan di sekitarnya. Keberadaannya justru terasa hanya sebagai tempelan di tengah konflik. Bahkan hingga menjelang akhir cerita, Rama masih bukan siapa - siapa bagi karakter lain; sekedar dianggap sebagai salah satu dari sekian banyak anak buah Bangun yang kebetulan memiliki keahlian bela diri yang patut diperhitungkan.

Bisa jadi segala kelemahan dari segi cerita ini karena awalnya cerita Berandal ini adalah cerita mandiri yang tidak berhubungan dengan film The Raid pertama, tapi sengaja dihubung - hubungkan agar 'nyambung' sebagai sekuel. Jadinya cerita dalam film ini hanya terasa sebagai intro dan penghubung antara satu adegan aksi ke adegan aksi lain. Memang inilah yang menjadi nilai jual The Raid 2: Berandal: adegan - adegan aksi dan pertarungan yang inovatif dan menarik. Menyaksikan adegan - adegan ini terasa menonton versi panjang dari trailernya. Menarik, tentu saja, tapi terasa kurang latar belakang cerita, sehingga adegan - adegan itu terasa berdiri sendiri -sendiri; ya itu tadi, seperti potongan trailer versi adegan penuh.

Hal lain yang agak mengganggu saya dalam menikmati film ini adalah kevulgarannya dalam penggambaran kekerasan. Saya yakin banyak yang tidak sependapat tentang ini, beralasan bahwa ini sudah sewajarnya sebagai sebuah sebuah film aksi, dan bagi yang tidak tahan melihat adegan - adegan sadis, silakan melihat melihat film drama saja. Tapi tetap saja, sebagai sebuah tontonan umum, ada batas - batas tertentu dalam penggambaran adegan kekerasan yang bisa ditampilkan, tanpa terkesan mengganggu.

Saya agak merasa Mr. Evans suka menampilkan adegan - adegan sadis seperti ini, dan menganggap orang - orang berpikir bahwa adegan - adegan semacam itu keren. The Raid pertama, kendati penuh adegan kekerasan, tapi masih dalam batas 'keren' tersebut; menambah kesan realis dalam sebuah adegan.  Namun dalam hal ini, lebih sadis tidak berarti lebih keren. Dalam film ini, beberapa adegan kekerasan terasa terlalu frontal ditampilkan, jadinya justru berlebihan. Padahal jika seandainya memang penting untuk keutuhan cerita, bisa diakali dengan trik tata kamera dan editing, sehingga adegan sadis tidak tampil blak - blakan begitu saja. Yang tidak penting, ya sekalian dihilangkan saja. Oh ya, adegan dalam pabrik video mesum milik Topan, dimana ditampilkan adegan mesum dalam siluet dengan suara yang jelas, termasuk amat sangat tidak penting dan menganggu, dan tidak ada alasan untuk dipertahankan.

Terlepas dari itu semua, film ini cukup menghibur. Dan bagaimanapun, saya tetap antusias menunggu seri ketiganya nanti. Semoga kali ini sebanding dengan antusiasme saya.




Kamis, 13 Maret 2014

Superhero: Dari Komik 10 Sen ke Waralaba Film Triliunan Rupiah

Saat ini, superhero masih menjadi tren populer dalam dunia film - bahkan makin menjadi. Setiap tahun dapat dipastikan ada film superhero produksi studio besar yang berebut pasar dengan film-film dari genre lain. Pertimbangan studio-studio ini sudah jelas; profit yang tinggi. Mereka tak ragu mengeluarkan ratusan juta dollar dana produksi karena keuntungannya pun berlipat. Sebagai gambaran, The Avengers (2012) produksi Marvel menjadi film ketiga dengan pendapatan tertinggi sepanjang masa di dunia, dibelakang Avatar (2009) dan Titanic (1997), dan menjadi film superhero terlaris dan tersukses sepanjang masa. Dengan biaya produksi sekitar US$220 juta, film ini meraup pendapatan lebih dari US$1,5 miliar dari peredarannya di seluruh dunia. Dengan perhitungan kurs kasar, itu setara dengan lebih dari Rp 15 triliun - hampir 7 kali lipat dari biaya produksinya.

Bicara tentang film superhero tentu tak bisa dipisahkan dari bicara komik. Meskipun tidak semua film jenis ini di adaptasi dari komik, namun istilah 'superhero' itu sendiri populer dari komik - terkhusus komik amerika - dan merupakan merk dagang yang dimiliki bersama oleh Marvel Characters, Inc dan DC Comics. Keduanya juga memiliki sebagian besar dari superhero-superhero yang paling terkenal dan berpengaruh di dunia.

Berawal dari lembaran gambar komik, sebagian dari superhero ini telah mengalami lintas media dan generasi. Siapa yang sekarang ini tidak mengenal Superman, Batman, atau Spider-man mungkin tidak tidak tinggal di planet ini, atau mungkin terisolasi dari peradaban. Bahkan bagi yang tidak pernah menyentuh buku komik seumur hidup pun setidaknya pasti pernah mendengar tentang tokoh-tokoh tersebut. Selain muncul dalam komik, 3 superhero paling populer ini beraksi juga melalui media radio, novel, televisi, teater, juga video game; masing-masing juga memiliki jajaran film-film sukses. Sampai saat ini, puluhan tahun setelah diciptakan, karakter-karakter tersebut tidak pernah berkurang ketenarannya.

Berikut ini adalah perjalanan beberapa superhero melalui berbagai media. Dari buku komik seharga 10 sen sampai ke waralaba film miliaran dollar.

1.  Superman.

Sampul Action Comic #1.
Tak bisa dibantah, Superman adalah superhero paling populer di dunia. Tokoh rekaan duo penulis Jerry Siegel dan penggambar Joe Shuster ini muncul pertama kali dalam halaman Action Comic #1 pada tahun 1938. Di awal kemunculannya, Identitas lain dari Clark Kent ini tidak bisa terbang dan hanya bisa 'melompati gedung tinggi dengan sekali lompatan'. Setelah debutnya di komik, Superhero yang sebenarnya alien bernama Kal-El ini dalam waktu singkat langsung populer.

Setahun kemudian pada tahun 1939, Superman muncul pertama kali di depan publik secara 'nyata'. Diperankan oleh aktor Ray Middleton, saat itu Superman tampil dalam acara New York World's Fair.

Di tahun berikutnya, Superman 'buka suara' melalui media radio. The Adventure of Superman mengudara dari tahun 1940 sampai tahun 1951 dengan narasi dari Jackson Beck yang terkenal; "It's a bird! It's a plane! It's Superman!". Suara Superman diisi oleh Bud Collyer.

Dimulai pada tahun 1948 Superman 'terbang' ke layar lebar melalui serangkaian film dengan diperankan oleh Kirk Alyn. George Reeves mengambil alih peran Superman untuk Superman and the Mole Man di tahun 1951, dan meneruskan peran tersebut dalam serial televisi Adventure of Superman dari tahun 1952 hingga 1958.

Pada tahun 1978 Richard Donner menyutradarai film Superman: The Movie yang melambungkan nama Christopher Reeves sebagai Superman. Film ini begitu sukses; banyak penggemar yang menganggap sosok Reeves paling cocok sebagai sang manusia baja, dan di anggap sebagai sosok Superman sejati.

Setelah belasan tahun hanya muncul dalam serial televisi dan film animasi, Superman kembali ke layar lebar pada tahun 2006 dalam Superman Returns; diperankan Brandon Routh. Paling mutakhir, aktor Henry Cavill memerankan Superman dalam Man of Steel (2013). Cavill direncanakan untuk tampil dalam film kedua di tahun 2016, dimana Superman akan bertemu pertama kalinya dalam media film dengan tokoh berikut ini...

2. Batman.

Sampul Detective Comic #27.
Sang Ksatria Kegelapan berkostum kelelawar favorit setiap orang ini muncul pertama kali dalam Detective Comic #27 pada tahun 1939. Imbas dari kesuksesan Superman, awalnya penampilan 'the Bat-Man' kreasi Bob Kane ini sama sekali beda dari yang kita kenal sekarang, sampai Bill Finger menyumbangkan saran dan ide-idenya untuk tokoh baru ini.

Terbukti sukses, Batman mendapat judul komik sendiri di tahun 1940. Kepopuleran mengantarkannya ke media film pada tahun 1943 melalui beberapa film serial yang diperani Lewis Wilson. Serial berikutnya dibuat di tahun 1949 dengan Robert Lowery sebagai Batman.

Di tahun 1966, Batman tampil pertama kali dalam film berwarna. Diadaptasi dari serial televisi yang dimulai di tahun yang sama, Batman diperankan Adam West -pemeran yang sama dari serial televisinya. Batman versi 1966 ini dibuat bernuansa ringan dan konyol, namun luar biasa sukses.

Di media radio, kemunculan pertama Batman 'nebeng' dalam The Adventures of Superman. Baru di tahun 1989, Batman memiliki acara radio sendiri.

Dimulai tahun 1968, Batman tampil dalam berbagai serial dan film animasi, di samping juga muncul dalam novel, buku, musikal, novel grafis, drama audio, video game, dan tentu saja komik.

Dalam film Batman (1989), sutradara Tim Burton membawa tokoh ini ke nuansa awalnya; gelap. Dibintangi Michael Keaton, film ini cukup sukses hingga melahirkan tiga sekuel. Aktor Val Kilmer mengambil-alih peran Batman dalam film ketiga, dan George Clooney dalam film keempat.

Seri baru film Batman dimulai  tahun 2005 melalui Batman Begins. Dengan pendekatan realistis sutradara Christopher Nolan mengembalikan karakter gelap Batman lewat akting Christian Bale dan melahirkan dua sekuel: The Dark Knight (2008) dan The Dark Knight Rises (2012).

Batman akan kembali ke layar lebar di tahun 2016 dalam sekuel Man of Steel dengan aktor Ben Affleck sebagai pemerannya.

3. Spider-Man.

Sampul Amazing Fantasy #15.
Superhero paling populer Marvel ini muncul pertama kali dalam Amazing Fantasy #15 di tahun 1962. Jagoan bermuka jaring ini diciptakan legenda komik Stan Lee bersama Steve Ditko untuk memenuhi permintaan pasar yang besar akan buku komik remaja pada saat itu. Dalam beberapa bulan saja, judul tersebut menjadi salah satu komik Marvel terlaris.

Dari tahun 1967 sampai 1970, Spider-Man muncul dalam seri kartun pertamanya. Baru di tahun 1977, film televisinya muncul dengan aktor Nicholas Hammond sebagai Spider-Man. Hammond mengulangi perannya dalam film serial  The Amazing Spider-Man hingga tahun 1979. Sebuah acara radio berjudul Spider-Man: From Beyond The Grave juga mengudara di tahun 1972.

Kepopuleran "Tetangga orang-orang New York yang ramah" ini mampir juga dalam media novel, dimulai dengan Spider-Man: Mayhem in Manhattan tahun 1978, sampai Spider-Man: Down These Mean Streets di tahun 2005.

Didahului kemunculan dalam banyak serial animasi, game (mulai dari tahun 1982), dan tentu saja dalam judul-judul komik laris, Spider-Man berayun dengan sukses ke layar lebar lewat tangan sutradara Sam Raimi di tahun 2002, dengan aktor Tobey Maguire yang memerankannya. Sukses meraup lebih dari US$ 800juta, film ini diikuti dua sekuel: Spider-Man 2 (2004) dan Spider-Man 3 (2007), yang juga sama suksesnya.

Di tahun 2012, Sony Picture Entertaintment selaku pemegang hak cipta Spider-Man untuk media film meluncurkan film The Amazing Spider-Man, memulai lagi seri film Spider-Man dari awal. Dengan diperani Andrew Garfield, film ini melakukan beberapa perubahan di sana sini dari versi Maguire. Film ini pun sukses.

Andrew Garfield akan kembali sebagai sang Pemanjat Dinding dalam film kedua seri ini: The Amazing Spider-Man 2 (2014), dan direncanakan akan kembali untuk film ketiga dan keempat, masing-masing untuk tahun 2016 dan 2018.

4. Captain America.

Sampul Captain America #1.
Muncul pertama kali dalam Captain America Comics #1 tahun 1941, Sang Avenger berbaju bendera ini diciptakan oleh Joe Simon dan Jack Kirby untuk Timely Comics, pendahulu Marvel Comics.

Captain America adalah properti Marvel pertama yang di adaptasi ke media lain melalui film serial di tahun 1944, meskipun karakternya mengalami perubahan besar-besaran dibandingkan versi komiknya. Diperani Dick Purcell, di film ini Captain America adalah Jaksa Wilayah Grant Gardner, dan bukan mantan tentara ringkih Steve Rogers dari komik.

Diciptakan menjelang Perang Dunia Kedua dan populer saat masa perang, kepopuleran Captain America khususnya dan genre Superhero umumnya mulai menurun paska perang. Beberapa judul komik Captain America terbitan periode 1950-an gagal di pasaran. Setelah sempat vakum, Marvel mencoba mengembalikan sang Sentinel of Liberty  ke komik populer melalui The Avengers #4 di tahun 1964.

Setelah muncul dalam novel dan seri animasi, di tahun 1979 Captain America tampil dalam dua film televisi yang diperani Reb Brown. Jagoan bertameng ini kembali ke layar film di tahun 1990 lewat akting Matt Salinger sebagai Captain America.

Chris Evans adalah aktor paling terkini yang menghidupkan karakter Captain America dalam media film. Dimulai lewat Captain America: The First Avenger (2011), lalu The Avengers (2012), Evans akan kembali dalam Captain America: The Winter Soldier (2014) dan The Avengers: Age of Ultron (2015).



Rabu, 19 Februari 2014

Beberapa Hal Tentang The Raid 2: Berandal Yang Bisa Anda Tahu Sampai Saat Ini

Sejak Gareth Evans mengumumkan akan adanya sekuel untuk film fenomenal The Raid ( yang diberi embel-embel 'Redemption' untuk peredaran di Amerika Serikat ) yang disutradarainya, publik penikmat film dunia selalu menanti segala berita dan perkembangan terbaru dari film sekuel yang sangat ditunggu tersebut. Untung bagi mereka, sang sutradara Gareth Evans tidak pelit untuk berbagi informasi mengenai setiap perkembangan film terbarunya itu dengan rajin menulis di akun twiter-nya.

Menurut Evans, konsep untuk  film yang diberi judul The Raid 2: Berandal ini sudah ada sebelum The Raid pertama dibuat, setelah dirinya menyelesaikan film Merantau yang dirilis pada tahun 2009 lalu. Film yang awalnya hanya dinamai 'Berandal' ini diniatkan sebagai film geng berskala besar dengan melibatkan bintang laga internasional, di samping pemain-pemain alumni Merantau: Iko Uwais, Yayan Ruhian, dan Donny Alamsyah. Namun, setelah gagal mengumpulkan cukup dana untuk memproduksi Berandal, Evans dan tim produksinya memutuskan untuk berubah haluan dan memproduksi film lain yang lebih sederhana dengan dana yang lebih minim: The Raid.

Ternyata, kesederhanaan The Raid justru berbuah kesuksesan besar. Dari sisi finansial ini berarti lampu hijau bagi Evans untuk merealisasikan proyek utamanya yang tertunda. Saat pengerjaan naskah The Raid, muncul pemikiran dari Evans untuk menciptakan hubungan antara The Raid dengan Berandal. Hasilnya, Berandal menjadi The Raid 2: Berandal, sekuel pertama dari dua sekuel yang direncanakan.

Iko Uwais, Yayan Ruhian, dan Donny Alamsyah kembali untuk film sekuel ini. Beberapa nama pemeran  baru diumumkan pada bulan Desember 2012; Julie Estelle, Alex Abbad, Mathias Muchus, Tio Pakusadewo, serta Marsha Timothy akan ikut meramaikan film ini. Roy Marten, Cok Simbara, Arifin Putra, Dedi Sutomo, Epy Kusnandar, serta Hengky Solaiman dan Fikha Effendi yang bermain juga dalam film pertama akan juga menjejali film ini. Praktisi Silat kenamaan Cecep Arif Rahman didapuk untuk sebuah peran besar. Aktor jepang Ryuhei Matsuda, Endo Kenichi, dan Kazuki Kitamura melengkapi jajaran pemain-pemain ini.

Proses Syuting dimulai pada tanggal 19 Januari 2013 sampai 27 Juli 2013. Pada 6 November 2013, sebuah teaser trailer untuk film ini diluncurkan melalui TwitchFilm, diikuti trailer versi Indonesia yang lebih panjang pada tanggal 31 Desember 2013. Menjelang pemutaran perdana di Sundance Film Festival tanggal 21 Januari 2014, trailer versi Amerika resmi diluncurkan.

Diiringi animo yang sangat tinggi, pemutaran perdana di Sundance disambut reaksi luar biasa dari penonton. Standing ovation untuk The Raid 2: Berandal dari penonton yang banyak terdiri dari kritikus film. Berbagai pujian ditujukan untuk Evans yang dianggap berhasil memenuhi harapan tinggi untuk mengungguli film The Raid pertama, baik dari segi cerita yang lebih kompleks maupun seting yang lebih luas
.
Diantara pujian-pujian selangit yang bertubi-tubi, salah satu kritik yang terselip adalah bahwa adegan aksi dalam The Raid 2: Berandal dikatakan amat brutal dan sadis, melebihi film pertamanya. Satu hal yang pasti, semua yang telah menonton film ini sepakat bahwa adegan-adegan aksi dalam film ini sangat memukau. Dan memang inilah daya tarik seri film The Raid ini.

Bagi penggemar film The Raid pertama, dipastikan film ini akan memuaskan semua harapan anda akan aksi-aksi beladiri yang lebih spektakuler, yang kali ini tidak terbatas seting dalam satu gedung saja. Karakter-karakternya akan lebih berwarna, aksi-aksinya akan lebih variatif, dan settingnya akan lebih megah dibandingkan film pertama.

The Raid 2: Berandal akan tayang untuk umum serentak di Indonesia dan Amerika Serikat pada tanggal 28 Maret 2014. Pastikan jadwal anda kosong pada tanggal tersebut.