Selasa, 03 Juni 2014

Borneo: The Beginning

Ini cerita perjalanan saya ke kalimantan bertahun - tahun lalu.

Rabu, 19 april 2006.
Lewat tengah malam menjelang jam 2 pagi di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, kapal Dharma Kencana sedang mengangkut penumpang baru. Setelah menunggu dari sore, Saya berdua dengan teman perjalanan saya - tetangga yang mengajak saya, tepatnya - bersiap naik juga; bukan melalui pintu penumpang, tapi ikut di dalam kokpit truk barang yang antri masuk melalui pintu besar di lambung kapal. Kok?

Ceritanya, dari pengalaman teman saya yang sudah sering naik kapal sebelumnya, akan jauh lebih hemat dengan nebeng truk begini. Caranya? Begini, biasanya truk barang yang akan menyeberang memakai kapal laut akan mendapat jatah 3 tiket; satu untuk sopir, dua tiket untuk kenek. Kadang si sopir berangkat tanpa kenek, sehingga jatah dua tiket lainnya umumnya dijual; yah, itung - itung uang rokok. Jadi kita tinggal ke tempat parkirnya truk - truk barang yang akan menyeberang itu, ngobrol - ngobrol sedikit nyari sopir yang berangkat sendirian untuk kita beli tiketnya. Tentu saja harganya bisa nego, yang jelas bisa jauh lebih murah daripada beli tiket di loket penumpang resmi. Waktu itu saya membayar Rp.65 ribu seorang, sekitar separuh harga di loket resmi. Lumayan, itung - itung a la backpacker.

Tentunya cara di atas hanya nyaman kalau kita berangkat tanpa membawa banyak barang.

Di dalam kapal, meski tak berkarcis resmi saya bebas mencari tempat duduk di ruangan - ruangan lain, tak melulu harus ikut rombongan sopir. Kapal mulai bergerak perlahan, meninggalkan pulau jawa tercinta - yang pertama kali dalam dua dasawarsa lebih.

Pertama kali naik kapal, saya jelajahi sebanyak mungkin bagian - bagiannya, tingkat per tingkat. Puas menikmati angin laut di luar saya mencari tempat istirahat di dalam, maklum, masih gelap. Tidak susah saya dapat tempat duduk, sekedar buat tidur. Tak ada pemeriksaan karcis. Pagi - pagi saya udah bangun lebih segar, langsung ke geladak atas buat menikmati angin pagi.

Geladak atas jadi tempat favorit banyak orang. Dari sini sepanjang mata memandang ke sekeliling kapal hanya ada air dan air. Geladak di 'buritan' (barusan dapat namanya dari googling, maklum, sering gak bisa bedain mana buritan, mana haluan - buritan di belakang, haluan di depan) posisinya lebih enak buat menikmati pandangan.Iya, dalam hal ini saya beda pendapat dengan mas Jack dan mbak Rose yang lebih suka berdiri di haluan. Dari buritan, kita bisa jelas melihat air di belakang kapal yang berombak teratur hasil dorongan mesin kapal.

Di dalam pun ada hiburan. Di satu ruangan sudah di sediakan satu grup organ tunggal buat para dangduters. Ada juga televisi yang memutar kaset video film hampir non stop. Seingat saya waktu itu yang saya tonton ada The Last Samurai-nya Tom Cruise, Mrs. Doubtfire-nya Robin Williams, dan Entrapment-nya Catherine Zeta-Jones dan Sean Connery. Film - film lama memang, bahkan buat waktu itu.

Dengan karcis kenek itu saya dapat jatah makan juga. Nasi yang agak keras dengan potongan ayam goreng, sayur, dan potongan kecil buah semangka. Lumayan lah.

Di tengah banyaknya penumpang kapal itu kebetulan teman saya bertemu kenalannya yang satu tujuan - oya, kapal ini menuju Banjarmasin, dengan transit terlebih dulu di pelabuhan Batu Licin, tujuan kami. Mereka, kenalan teman saya itu, orang - orang asal jawa timur yang mau kembali ke perantauan di sana.

Kamis, 20 april 2006.
Lagi - lagi tengah malam, setelah sekitar 24 jam di atas kapal, mulai terlihat pemandangan lain di kejauhan. Cahaya tampak berkelap - kelip di kejauhan. Gundukan daratan mulai tampak di kegelapan. Kata orang, itulah Pagatan, salah satu daerah pantai kalimantan selatan. Tapi bukan tujuan kami.

Beberapa lama, suasana mulai riuh, tujuan semakin dekat. Kapal kami ditarik oleh kapal pemandu yang lebih kecil untuk mendekati pelabuhan.

Jam 02.00 pagi, untuk pertama kalinya saya menjejakkan kaki di pelabuhan Batu Licin, Kalimantan Selatan, tanah Borneo.

Tidak ada komentar: