Masih tentang Kalimantan, ini pengalaman perjalanan saya ke ibukota salah satu provinsinya; Banjarmasin, ibukota Kalimantan Selatan.
Sekalian menambah pengalaman, tujuan saya waktu itu ke Kalimantan adalah mencari kerja. Setelah usaha menaruh lamaran di beberapa perusahaan tambang belum ada hasil, tanpa sengaja saya melihat lowongan kerja di koran setempat. Dalam kondisi biasa, iklan tersebut mungkin bakal biasa juga, tapi buat yang desperate macam saya waktu itu (haha..nggak juga sih), iklan tersebut jadi peluang yang pantas di coba.
Saya lihat nama PT-nya (lupa), syarat - syaratnya (hmm, memenuhi), posisi yang di tawarkan ( ah, sebodo amat), trus alamatnya..jrennnggg: Jl. Ahmad Yani Km.sekian No. sekian, BANJARMASIN. Waduh, disebelah mana tuh ya? Bahwa Banjarmasin adalah ibukota Kalimantan Selatan, itu sih saya tahu, tapi ke arah mana dan seberapa jauh dari posisi saya saat itu; Sei Kecil, kec. Batulicin, kab. Tanah Bumbu, saya benar - benar tidak ada bayangan.
Berbekal rasa penasaran dan semangat juang tinggi (the kepepet effect), saya mulai menceritakan niat sekaligus bertanya soal lokasi di Banjarmasin itu ke kenalan. Niat saya mantab, pergi ke Banjarmasin, entah di mana itu.
Senin, 14 mei 2006.
Berbekal sebuah alamat, tas punggung, kemeja putih dan celana bahan warna hitam pinjaman dari kenalan orang flores yang saya simpan dalam tas, sepatu kets, dan duit minimalis, menjelang siang saya berangkat ke terminal Batulicin dengan naik taksi (baca: angkot). Segera saya beli karcis tujuan Banjarmasin, kalau tidak salah harganya Rp 35ribu. Ternyata angkutan berwujud minibus itu harus menunggu penuh penumpang dulu sebelum berangkat, dan baru sekitar jam 11.30 mulai berangkat. Here we go...
Lepas dari daerah perkotaan, suasana perkampungan, hutan pegunungan, dan perkebunan langsung silih berganti. Detail sepanjang perjalanan agak kabur dalam ingatan saya, yang jelas bentang alamnya beda dengan di jawa. Berhubung masih di daerah pesisir, rawa - rawa umum dijumpai, juga sungai - sungai. Kami juga banyak melewati perkebunan kelapa sawit.
Kondisi jalan sih lumayan, beberapa juga lumayan jelek. Beberapa ruas jalan hanya berupa jalan makadam atau jalan tanah yang dikeraskan. Dipadu dengan lokasi daerah pesisir yang basah, klop sudah; arena off road bisa menanti di mana aja. Kadang kita harus melewati jembatan kecil yang dibuat dari entah batang pohon kelapa atau pohon sagu, yang tentu saja licin.
Dari hasil obrolan dengan teman duduk disamping saya, saya dapat gambaran sedikit tentang alamat yang saya tuju.
Di tengah perjalanan, mobil tiba - tiba berhenti, ternyata untuk menaikkan penumpang, padahal kursi sudah penuh. Di luar mobil ada beberapa pria dan wanita; ternyata mereka hanya mengantar saja, sedang yang naik hanya seorang, gadis yang saya terka usianya mungkin baru sekitar 13 sampai 15 tahun. Yang menarik, mereka berpamitan dengan penuh haru. Seorang wanita setengah baya yang mungkin ibunya terlihat seperti menasehatinya, sementara si gadis tidak berhenti menangis, seperti tidak rela pergi. Gadis itu duduk di bangku depan, di apit supir dan penumpang lain. Dari tempat duduk saya yang di belakang, terlihat dia masih tetap menangis beberapa lama setelah berangkat. Entah dia pergi karena dipaksa, entah sedih meninggalkan keluarganya, ataupun kemana dan kenapa gadis semuda dia pergi sendirian, saya tak pernah tahu.
Saya sempat tertidur sebentar (tapi sering..dasar, tukang ngantuk!) di perjalanan, sehingga melewatkan beberapa keadaan perjalanan. Sekitar waktu Ashar mobil kami berhenti di rumah makan, memberi waktu penumpang untuk sholat, keperluan kamar mandi, dan makan. Saya pun makan.
Mobil kami meneruskan perjalanan, hingga akhirnya masuk ke terminal Banjarmasin sekitar pukul 05.30. Fiuh, inilah banjarmasin. Misi pertama accomplished lah. Sesuai saran teman perjalanan saya tadi, saya segera mencari ojek, buat mengantar saya ke alamat tujuan. Setelah kompak menengok kiri kanan sepanjang jl. Ahmad Yani, akhirnya kami menemukan juga gedung dengan nomor yang saya cari. Masalahnya, hari sudah gelap dan kantor itu pun sudah tutup. Terpaksa memang saya harus kembali esok hari, tapi harus kemana saya sekarang? Nah loh.
Saya mulai menelusuri jalan besar tersebut. Mengingat sudah masuk waktu maghrib, tujuan saya mencari masjid, sekalian beristirahat. Saya berjalan ke arah saya pertama datang. Banjarmasin lumayan ramai, suasananya tidak beda dengan kota - kota besar lain di jawa. Jalan mulus dan lebar, di apit penuh dengan bangunan, sementara sungai mengalir di sepanjang sisinya.
Di sebelah kiri arah saya jalan, saya menemukan sebuah masjid besar. Setelah ikut sholat maghrib berjamaah, saya mencari penjaganya untuk meminta ijin menumpang menginap. Ternyata ditolak, alasannya karena masjid dikunci kalau malam hari. Saya merasa penjaga masjid agak kurang ramah terhadap saya, maka saya putuskan mencari tempat lain. Tidak jauh dari situ, saya mampir makan di kedai tenda di pinggir jalan. Ternyata penjualnya orang jawa. Agak jauh dari situ ada masjid juga, kali ini di sebelah kiri, lebih kecil dari yang pertama. Saya sholat isya' di situ. Setelah sholat, kali ini saya tak menemukan penjaga masjid, jadi saya tidur saja di situ.
Subuh, saya bukan bangun oleh adzan, tapi oleh tukang - tukang sayur yang mampir dulu untuk sholat subuh, sekalian menyiapkan gerobak dagangannya. Setelah subuhan, saya numpang cuci muka (tidak boleh numpang mandi, kata penjaganya yang sekarang baru ada) dan ganti pakaian dengan baju pinjaman itu. Lagi - lagi jalan kaki, saya menuju kantor itu lagi, sudah ramai orang di situ. Saya menemui petugas recruitment-nya, seorang Bali yang ramah. Ternyata lowongan itu untuk pekerjaan sales produk water purifier, huh..lagu lama ternyata. Bapak Bali itu menerangkan dengan berapi - api tentang prospek dan cara kerjanya dan bilang bahwa saya bisa mulai kerja besok pagi. Sebenarnya saya tidak tertarik, tapi saya tidak bilang menolak juga; saya bilang saya dari tempat jauh dan belum ada tempat menginap.
Saya baru sadar bahwa saya memang tidak ada persiapan apa - apa. Kalaupun saya terima, saya tinggal di mana, apa modal hidup saya? Mengingat saya juga tidak sreg dengan pekerjaannya, saya putuskan pulang ke batu licin lagi hari itu juga. Tak sempat mencari tempat, saya ganti baju di pinggir jalan, trus menuju terminal.
Hari itu juga sekitar maghrib saya tiba di batu licin. Setelah membayar angkot dari terminal, saya hitung - hitung sisa uang bekal saya di dompet tinggal beberapa ribu rupiah saja. Luar biasa!
Senin, 09 Juni 2014
Selasa, 03 Juni 2014
Borneo: The Beginning
Ini cerita perjalanan saya ke kalimantan bertahun - tahun lalu.
Rabu, 19 april 2006.
Lewat tengah malam menjelang jam 2 pagi di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, kapal Dharma Kencana sedang mengangkut penumpang baru. Setelah menunggu dari sore, Saya berdua dengan teman perjalanan saya - tetangga yang mengajak saya, tepatnya - bersiap naik juga; bukan melalui pintu penumpang, tapi ikut di dalam kokpit truk barang yang antri masuk melalui pintu besar di lambung kapal. Kok?
Ceritanya, dari pengalaman teman saya yang sudah sering naik kapal sebelumnya, akan jauh lebih hemat dengan nebeng truk begini. Caranya? Begini, biasanya truk barang yang akan menyeberang memakai kapal laut akan mendapat jatah 3 tiket; satu untuk sopir, dua tiket untuk kenek. Kadang si sopir berangkat tanpa kenek, sehingga jatah dua tiket lainnya umumnya dijual; yah, itung - itung uang rokok. Jadi kita tinggal ke tempat parkirnya truk - truk barang yang akan menyeberang itu, ngobrol - ngobrol sedikit nyari sopir yang berangkat sendirian untuk kita beli tiketnya. Tentu saja harganya bisa nego, yang jelas bisa jauh lebih murah daripada beli tiket di loket penumpang resmi. Waktu itu saya membayar Rp.65 ribu seorang, sekitar separuh harga di loket resmi. Lumayan, itung - itung a la backpacker.
Tentunya cara di atas hanya nyaman kalau kita berangkat tanpa membawa banyak barang.
Di dalam kapal, meski tak berkarcis resmi saya bebas mencari tempat duduk di ruangan - ruangan lain, tak melulu harus ikut rombongan sopir. Kapal mulai bergerak perlahan, meninggalkan pulau jawa tercinta - yang pertama kali dalam dua dasawarsa lebih.
Pertama kali naik kapal, saya jelajahi sebanyak mungkin bagian - bagiannya, tingkat per tingkat. Puas menikmati angin laut di luar saya mencari tempat istirahat di dalam, maklum, masih gelap. Tidak susah saya dapat tempat duduk, sekedar buat tidur. Tak ada pemeriksaan karcis. Pagi - pagi saya udah bangun lebih segar, langsung ke geladak atas buat menikmati angin pagi.
Geladak atas jadi tempat favorit banyak orang. Dari sini sepanjang mata memandang ke sekeliling kapal hanya ada air dan air. Geladak di 'buritan' (barusan dapat namanya dari googling, maklum, sering gak bisa bedain mana buritan, mana haluan - buritan di belakang, haluan di depan) posisinya lebih enak buat menikmati pandangan.Iya, dalam hal ini saya beda pendapat dengan mas Jack dan mbak Rose yang lebih suka berdiri di haluan. Dari buritan, kita bisa jelas melihat air di belakang kapal yang berombak teratur hasil dorongan mesin kapal.
Di dalam pun ada hiburan. Di satu ruangan sudah di sediakan satu grup organ tunggal buat para dangduters. Ada juga televisi yang memutar kaset video film hampir non stop. Seingat saya waktu itu yang saya tonton ada The Last Samurai-nya Tom Cruise, Mrs. Doubtfire-nya Robin Williams, dan Entrapment-nya Catherine Zeta-Jones dan Sean Connery. Film - film lama memang, bahkan buat waktu itu.
Dengan karcis kenek itu saya dapat jatah makan juga. Nasi yang agak keras dengan potongan ayam goreng, sayur, dan potongan kecil buah semangka. Lumayan lah.
Di tengah banyaknya penumpang kapal itu kebetulan teman saya bertemu kenalannya yang satu tujuan - oya, kapal ini menuju Banjarmasin, dengan transit terlebih dulu di pelabuhan Batu Licin, tujuan kami. Mereka, kenalan teman saya itu, orang - orang asal jawa timur yang mau kembali ke perantauan di sana.
Kamis, 20 april 2006.
Lagi - lagi tengah malam, setelah sekitar 24 jam di atas kapal, mulai terlihat pemandangan lain di kejauhan. Cahaya tampak berkelap - kelip di kejauhan. Gundukan daratan mulai tampak di kegelapan. Kata orang, itulah Pagatan, salah satu daerah pantai kalimantan selatan. Tapi bukan tujuan kami.
Beberapa lama, suasana mulai riuh, tujuan semakin dekat. Kapal kami ditarik oleh kapal pemandu yang lebih kecil untuk mendekati pelabuhan.
Jam 02.00 pagi, untuk pertama kalinya saya menjejakkan kaki di pelabuhan Batu Licin, Kalimantan Selatan, tanah Borneo.
Rabu, 19 april 2006.
Lewat tengah malam menjelang jam 2 pagi di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, kapal Dharma Kencana sedang mengangkut penumpang baru. Setelah menunggu dari sore, Saya berdua dengan teman perjalanan saya - tetangga yang mengajak saya, tepatnya - bersiap naik juga; bukan melalui pintu penumpang, tapi ikut di dalam kokpit truk barang yang antri masuk melalui pintu besar di lambung kapal. Kok?
Ceritanya, dari pengalaman teman saya yang sudah sering naik kapal sebelumnya, akan jauh lebih hemat dengan nebeng truk begini. Caranya? Begini, biasanya truk barang yang akan menyeberang memakai kapal laut akan mendapat jatah 3 tiket; satu untuk sopir, dua tiket untuk kenek. Kadang si sopir berangkat tanpa kenek, sehingga jatah dua tiket lainnya umumnya dijual; yah, itung - itung uang rokok. Jadi kita tinggal ke tempat parkirnya truk - truk barang yang akan menyeberang itu, ngobrol - ngobrol sedikit nyari sopir yang berangkat sendirian untuk kita beli tiketnya. Tentu saja harganya bisa nego, yang jelas bisa jauh lebih murah daripada beli tiket di loket penumpang resmi. Waktu itu saya membayar Rp.65 ribu seorang, sekitar separuh harga di loket resmi. Lumayan, itung - itung a la backpacker.
Tentunya cara di atas hanya nyaman kalau kita berangkat tanpa membawa banyak barang.
Di dalam kapal, meski tak berkarcis resmi saya bebas mencari tempat duduk di ruangan - ruangan lain, tak melulu harus ikut rombongan sopir. Kapal mulai bergerak perlahan, meninggalkan pulau jawa tercinta - yang pertama kali dalam dua dasawarsa lebih.
Pertama kali naik kapal, saya jelajahi sebanyak mungkin bagian - bagiannya, tingkat per tingkat. Puas menikmati angin laut di luar saya mencari tempat istirahat di dalam, maklum, masih gelap. Tidak susah saya dapat tempat duduk, sekedar buat tidur. Tak ada pemeriksaan karcis. Pagi - pagi saya udah bangun lebih segar, langsung ke geladak atas buat menikmati angin pagi.
Geladak atas jadi tempat favorit banyak orang. Dari sini sepanjang mata memandang ke sekeliling kapal hanya ada air dan air. Geladak di 'buritan' (barusan dapat namanya dari googling, maklum, sering gak bisa bedain mana buritan, mana haluan - buritan di belakang, haluan di depan) posisinya lebih enak buat menikmati pandangan.Iya, dalam hal ini saya beda pendapat dengan mas Jack dan mbak Rose yang lebih suka berdiri di haluan. Dari buritan, kita bisa jelas melihat air di belakang kapal yang berombak teratur hasil dorongan mesin kapal.
Di dalam pun ada hiburan. Di satu ruangan sudah di sediakan satu grup organ tunggal buat para dangduters. Ada juga televisi yang memutar kaset video film hampir non stop. Seingat saya waktu itu yang saya tonton ada The Last Samurai-nya Tom Cruise, Mrs. Doubtfire-nya Robin Williams, dan Entrapment-nya Catherine Zeta-Jones dan Sean Connery. Film - film lama memang, bahkan buat waktu itu.
Dengan karcis kenek itu saya dapat jatah makan juga. Nasi yang agak keras dengan potongan ayam goreng, sayur, dan potongan kecil buah semangka. Lumayan lah.
Di tengah banyaknya penumpang kapal itu kebetulan teman saya bertemu kenalannya yang satu tujuan - oya, kapal ini menuju Banjarmasin, dengan transit terlebih dulu di pelabuhan Batu Licin, tujuan kami. Mereka, kenalan teman saya itu, orang - orang asal jawa timur yang mau kembali ke perantauan di sana.
Kamis, 20 april 2006.
Lagi - lagi tengah malam, setelah sekitar 24 jam di atas kapal, mulai terlihat pemandangan lain di kejauhan. Cahaya tampak berkelap - kelip di kejauhan. Gundukan daratan mulai tampak di kegelapan. Kata orang, itulah Pagatan, salah satu daerah pantai kalimantan selatan. Tapi bukan tujuan kami.
Beberapa lama, suasana mulai riuh, tujuan semakin dekat. Kapal kami ditarik oleh kapal pemandu yang lebih kecil untuk mendekati pelabuhan.
Jam 02.00 pagi, untuk pertama kalinya saya menjejakkan kaki di pelabuhan Batu Licin, Kalimantan Selatan, tanah Borneo.
Langganan:
Postingan (Atom)