Kamis, 21 September 2017

Cerita Panjang Backpacker-an Singkat Ke Bromo

Siapa yang tidak tahu Bromo? Yaa, ada aja sih pasti. Tapi, intinya pasti lebih banyak yang tau lah. Yang belum pernah ke sana pun pasti bisa membayangkan lautan pasirnya yang luas dan padang savananya yang indah, dan biasanya langsung mengangankan untuk suatu saat bisa berkunjung ke sana. Begitu pun saya; sudah lama saya ingin dolan ke kawasan wisata alam kawah di Jawa Timur yang tersohor sampai ke luar negeri ini.
Berawal dari sekedar rasa pengen yang terpendam terlalu lama tanpa tahu kapan akan kesampaian, tiba - tiba saja saya akhirnya mantab untuk mewujudkannya. Meskipun sempat memprovokasi beberapa teman untuk melakukan trip bareng, tapi dari awal bayangan saya adalah memang untuk berangkat sendirian. Yang sempat jadi pertimbangan waktu itu, dari hasil browsing sekedarnya, bahwa dengan pergi berombongan biaya bisa lebih murah. Namun, setelah beberapa teman yang tertarik ternyata semua berujung tidak jelas, saya makin mantab untuk berangkat sendirian. Asumsinya, ke-mahal-an biaya yang nanti akan saya tanggung sendiri -yang bisa lebih murah bila ditanggung bersama rekan- akan di kompensasi dengan penghematan pada pengeluaran yang lain.
Berikutnya saya mulai mengumpulkan info secukup yang saya butuh -lagi - lagi via browsing, menentukan rute dan estimasi anggaran. Setelah menentukan tanggal yang pas -libur weekend sabtu-minggu, ditambah cuti di hari senin dan kebetulan libur Hari Raya Nyepi di hari selasa-, saya langsung merancang perjalanan, menyesuaikan waktu terbatas yang saya punya; 4 hari yang saya punya harus sudah cukup untuk menuntaskan perjalanan ini.
Persoalan berikutnya, transportasi. Menyesuaikan waktu dan untuk menekan biaya seminim mungkin, pilihan jatuh pada kereta api. Tiga minggu sebelum tanggal berangkat saya memesan secara online tiket kereta api pp Stasiun Senen - Pasar Turi (Sby) - Stasiun Senen seharga Rp 165.000 sekali jalan dengan menggunakan Kereta Api Ekonomi Kertajaya. Pun dari waktu sejauh itu kuota kereta ternyata sudah hampir penuh. Jadi untuk yang berminat, pastikan memesan tiket dari jauh hari.

Hari pertama, 25 maret 2017.

Dengan commuter line saya berangkat ke Stasiun Senen dari domisili saya di Tangerang. Sampai di tujuan sekitar pukul 12.30, saya menukarkan dulu struk pembelian tiket dengan tiket resmi. Sesuai jadwal, Kertajaya mulai berangkat pukul 14.00. Kecuali jarak kursi yang berhadapan agak terlalu dekat dan sandarannya yang tegak 90° sehingga membuat pegal, kereta ekonomi ini lumayan nyaman. Gerbongnya bersih dan ber-AC. Bila tidak sempat membawa bekal pun tidak perlu khawatir, di dalam ada semacam kantin yang menjual berbagai makanan dan minuman. Pun tidak perlu beranjak dari tempat duduk karena akan ada petugas yang rajin berkeliling menawarkan dagangannya; nasi lauk, nasi goreng, kopi, minuman botol, bahkan camilan.

Hari kedua, 26 maret 2017.


Lengangnya suasana pagi Jl. Semarang di depan Stasiun Turi.







































Pukul 01.35 Kertajaya tiba di Stasiun Pasar Turi, telat 5 menit dari jadwal. Lagu Surabaya oh Surabaya terdengar menyambut via pengeras suara; entah siapa yang perlu untuk diingatkan akan posisi mereka sekarang berada karena lagu ini diputar berulang - ulang. Di pintu keluar stasiun banyak calo dan sopir yang menawarkan jasanya; mulai dari mobil sewaan, travel, taxi, ojek, sampai tukang becak. Demi pengiritan, saya harus menunggu hari terang untuk bisa naik bus kota ke tujuan berikutnya, Terminal Bungurasih/ Purabaya. Bus kota tidak lewat di jalan depan stasiun, jadi kita harus berjalan dari depan stasiun ke arah kiri yaitu ke pertigaan di depan gedung Pusat Grosir Surabaya (PGS) untuk menunggu bus. Lumayan sebagai relaksasi juga - setelah hampir 12 jam duduk di kereta, sambil menikmati udara dan suasana pagi kota Pahlawan. Selepas menyempatkan sarapan dini dengan menu soto daging sapi madura dan sholat shubuh di masjid dekat stasiun, saya akhirnya mendapat bus sekitar pukul 06.30, langsung menuju ke Bungurasih dengan waktu tempuh 30 menitan dengan ongkos cuma Rp 6000.
Di Bungurasih akan ada lebih banyak lagi calo, jadi pintar-pintar saja buat menolak -fokus saja mencari Bus patas AC yang akan membawa ke tujuan berikutnya, Probolinggo. Tarifnya Rp 30.000, agak lebih mahal dari bus biasa tapi jelas lebih nyaman dan lebih cepat. Berangkat dari Bungurasih pukul 07.19, saya akhirnya sampai di terminal Bayuangga, Probolinggo pada pukul 09.24. Saya menyempatkan makan lagi di terminal kecil ini, yaah anggap saja makan siang dini lah, untuk kemudian keluar terminal untuk mencari angkutan sejenis L300 yang disebut Bison -angkutan khusus ke cemoro lawang, tujuan berikutnya- yang mangkal di sebelah kiri arah keluar terminal. Banyak tukang ojek yang menawarkan jasanya dengan tarif yang tentu akan lebih mahal. Sopan - sopannya kita saja menolaknya.
Demi tarif yang lebih murah dan sedikit lebih nyaman kita harus bersabar karena angkutan Bison ini tidak akan berangkat sebelum penumpang penuh. Saya penumpang ketiga yang datang saat itu, untungnya tak berapa lama datang rombongan lokal 3 orang, lalu berturut-turut datang beberapa rombongan lagi dengan total 11 orang yang semuanya bule serta satu orang jepang, jadi totalnya adalah 17 orang plus sopir yang berdesakan dalam mobil itu.
Suasana pangkalan angkutan bison di luar terminal Probolinggo.
Bison akhirnya berangkat pukul 11.05 menuju Cemoro Lawang, Sukapura, dengan medan yang, tentu saja, menanjak dan berliku-liku; semakin naik hawa terasa semakin dingin, pemandangan di luar pun semakin indah. Oh iya, bila mungkin sempatkan mengobrol dengan sang sopir; anda akan butuh tempat menginap dan jeep untuk di sewa nanti dan biasanya sopir-sopir ini merangkap semacam agen yang sekaligus menyediakan fasilitas tersebut kepada wisatawan, ataupun sekedar sebagai penghubung. Itulah yang saya lakukan, sehingga saat sampai di Cemoro Lawang pukul 12.30 saya langsung mendapat tempat menginap sekaligus Jeep sewaan dari sopir Bison yang saya tumpangi tanpa repot mencari lagi. Harganya: Rp 150.000 per kamar homestay + Rp 130.000 per orang/ Jeep. Untungnya, 3 orang rombongan lokal yang bareng satu Bison tadi mau berbagi homestay dan jeep dengan saya, jadi kami menyewa dua dari tiga kamar yang ada di homestay tersebut; satu kamar berdua sehingga masing-masing cukup membayar Rp 75.000.
Homestay di Cemoro Lawang.
Jeep baru akan menjemput kami menjelang pagi jadi kami punya waktu seharian di homestay. Saat jalan - jalan di sekitaran kampung kecil ini secara tak sengaja kami baru tahu bahwa Bromo yang akan kami kunjungi esok ternyata terlihat jelas dari salah satu komplek penginapan dan restoran yang berlokasi di dekat semacam tebing yang menghadap langsung ke kawah Bromo nun jauh di bawah sana. Akhirnya saya melihat Bromo secara langsung. Luar biasa indahnya. Dari komposisi letak dan sudut pandangnya, banyak gambar atau foto - foto Bromo yang saya lihat dan beredar luas diambil dari sudut pandang tempat ini. Dari sini, terlihat jelas Gunung Bromo yang senantiasa mengeluarkan asap tebal dari kawahnya. Di sampingnya, di sebelah kanan pandangan kita terlihat Gunung Batok yang berdiri kokoh. Keduanya dikelilingi oleh lautan pasir yang amat luas. Di atas pasir terlihat jalur - jalur bekas lintasan kendaraan, sementara di sana banyak juga mobil jeep yang terlihat, walaupun tampak sangat kecil dari tempat ini.
View kawah Bromo dengan Gunung Batok di sebelah kanannya dilihat dari salah satu sudut penginapan di Cemoro Lawang. Familiar?






Hari ketiga, 27 maret 2017.

Pukul 03.00 lewat jeep menjemput kami berempat. Kapasitas jeep 6 penumpang sehingga kami harus berbagi dengan dua orang dari rombongan lain. Ada 4 lokasi yang akan kami kunjungi. Pukul 04 lewat sekian kami sampai di lokasi pertama: Penanjakan. Di sini ternyata sudah sangat ramai pengunjung, semuanya ingin menyaksikan matahari terbit dari balik Bromo yang terkenal spektakuler. Sayangnya kami semua saat itu harus kecewa saat sunrise ternyata tidak terlihat karena tertutup kabut. Pelajarannya: silakan berkunjung ke sini saat paruh kedua dalam setahun di musim kemarau sehingga biasanya sunrise terlihat jelas.
Gagal dapat sunrise di penanjakan.
Saat hari mulai terang kami menuju ke lokasi ke dua: Kawah Bromo. Butuh perjuangan agak ekstra untuk ke puncak kawahnya karena setelah melewati lautan pasir kita masih harus menaiki anak tangga yang lumayan banyak. Bila mau, dari lokasi parkir jeep kita bisa menyewa kuda untuk menuju ke kawah walaupun hanya bisa sampai kaki tangga. Di puncak, bau belerang lumayan menyengat dan suara gemuruh dari dalam kawah terdengar mendengkur keras.
Lokasi ke tiga dan ke empat adalah Padang Savanna dan Pasir Berbisik. Kedua tempat ini pun tak kalah indah bukan main. Di dua tempat terakhir ini saya tak melihat satu pun turis selain asing, padahal di dua tempat sebelumnya ada banyak sekali. Menurut sopir Jeep yang mengantar kami, turis asing yang berkunjung ke Bromo biasanya sekedar mampir dari trip estafet mereka. Entah, misalnya, dari Bali untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Jogjakarta, atau sebaliknya. Jadi, kebanyakan mereka hanya menyempatkan untuk mengunjungi dua tempat pertama demi menghemat waktu mereka yang terbatas.
Pose wajib di depan jeep.
Padang savana.
Walau jeep sewaan kami tidak membatasi waktu tapi saya dan teman rombongan lain tidak merasa perlu berlama - lama di lokasi - lokasi tersebut karena tentu waktu kami lah yang terbatas. Pukul 10.30 kami sudah kembali ke homestay untuk langsung berkemas turun untuk pulang.
Setelah naik elf lagi sampai ke Terminal Bayuangga Probolinggo, saya berpisah dengan rombongan untuk langsung melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Sekitar pukul 3 sore bus saya tiba di Bungurasih. Demi membeli oleh - oleh ( Sumpah, kalo ngga dipentingin ngga bakal dibela - belain ini mah, karena waktunya mepet plus badan yang sudah capek banget -lah jadi curhat ) saya berpusing - pusing dulu di Kota Surabaya, tidak langsung ke stasiun. Lagi - lagi bermodal browsing, saya memutuskan untuk mencari oleh - oleh ke pasar genteng yang merupakan pusat oleh - oleh di Surabaya. Setelah tanya sana sini hingga salah turun bus sehingga harus jalan kaki lumayan jauh, saya dapat juga oleh - oleh yang saya cari, walaupun hari sampai mulai gelap..
Untuk ke stasiun saya harus naik angkot lagi. Badan capek luar biasa tapi hati puas. Saya sempatkan mencoba makan rawon di warung di depan stasiun, sebelum pulang ke Tangerang via Jakarta naik Kereta Api Kertajaya lagi dan berangkat tepat waktu pukul 21.00. Perjalanan pulang selalu terasa lebih plong, lega. Pukul 08.49 kereta sudah tiba di stasiun Pasar Senen, kali ini terlambat 19 menit dari jadwal. Dan tuntas pula lah perjalanan singkat saya kali ini. Dalam hati saya sudah berharap - harap, semoga perjalanan - perjalanan ke tempat lain cepet menyusul. Amin lah.


NB: Terima kasih buat Riki, Dede, dan satu teman lagi yang, maaf, saya lupa namanya, yang sudah mau patungan untuk berbagi Homestay dan Jeep :)