Namanya lumayan gampang diingat: Tarmo Trail. Lumayan keren 'kan? Yah, tergantung definisi anda soal keren sih. Memang gak seterkenal Dirty Harry, Moaning Myrtle, Rocket Racoon, atau Daffy Duck, tapi pola penamaan mereka serupa: dua kata; satu kata untuk nama umum, satu lagi sebagai penekanan identifitas khusus.
Nah, kalo Tarmo Trail? Kayaknya gak perlu nunggu Conan Edogawa ngebius Kogoro Mouri deh buat tahu kalau Tarmo itu nama aslinya. Berhubung dia orang jawa, mungkin nama panjangnya Sutarmo,atau Tarmono, entah yang mana. Nah, terus Trail-nya? Itu tunggangannya sehari-hari: Motor Trail. Lumayan 'kan?
Terus, emang siapa dia? Tarmo Trail cuma seorang tukang sol sepatu di pasar kecamatan kampung saya, sejak dari dulu sejauh saya bisa mengingat, dan mungkin sekarang pun masih. Terus apa istimewanya? Gayanya. Penampilannya. Kaos pas badan, rompi penuh emblem sana-sini, celana cutbray dengan sepatu boot ber-hak tinggi. Aksesoris rantai menggantung di pinggang, ditunjang badan yang lumayan berisi, rambut ikal gondrong macam personil soneta jaman dulu - plus cambang manly, hehe -, itu penampilannya sehari - hari. Ditambah kaca mata rayban hitam lebar model lawas, plus tunggangannya tadi: Motor Trail, entah model apa, Tarmo Trail adalah ikon fashion sejati kampung saya jaman saya kecil dulu.
Nyentrik, mungkin kata yang tepat juga untuk menyebutnya. Kenyataannya, meski jaman selalu berubah, mode selalu berganti, Tarmo Trail tetap setia dengan gayanya. Dan dia nampak nyaman bertahan dalam gaya yang sudah lama ditinggal orang itu. Dan kenapa enggak? Justru dia menunjukkan, setiap orang boleh bergaya, apapun latar belakangnya, sesuai minat masing-masing tentunya; itu yang membuat setiap orang unik. Dan Tarmo Trail tampaknya menikmati keunikannya. Tarmo Trail bukan lagi nama, tapi sudah menjadi trademark; merk dagang. Dia tak di sebut Mas Tarmo, Lek Tarmo, atau Pak De Tarmo; semua orang, tua atau pun muda hanya mengenalnya sebagai Tarmo Trail.
Buat anak-anak, unik bisa berarti seram. Makanya dulu waktu saya kecil, seingat saya Ibu - ibu suka bilang ''Awas lho, nanti biar di bawa sama Tarmo Trail'' untuk menakuti anaknya yang bandel.
Tapi, Tarmo Trail bukan satu - satunya orang di kampung saya yang selera modenya mentok dalam satu masa. Meet Darman..salah satu orang yang selera fashionnya stuck di tahun 70'an dan gak kemana - mana lagi setelah itu. Tetangga saya ini orangnya kurus, semampai tapi gak tinggi. Pakaiannya? Kemeja lengan panjang ketat pas badan dengan ujung lengan lebar, plus dengan beberapa kancing atas sengaja tidak dikancing sehingga dada bagian atas kelihatan. Celananya model cutbray yang bagian bawahnya muat dipakai sembunyi 5 ekor kucing, sementara rambutnya lurus gondrong.
Seingat saya, semua pakaian kang Darman memang modelnya seperti itu. Jadi kalo terlihat satu model bukan karena gak ganti - ganti. Nah, kang Darman ini punya beberapa saudara kandung, salah satunya laki - laki juga yang tidak terpaut jauh umurnya, namanya Darmin. Beda mereka, selera pakaian kang Darmin ini lebih umum, mengikuti zaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar